Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In
Showing posts with label Rohani. Show all posts
Showing posts with label Rohani. Show all posts

Sirah Nabawiyah (Sejarah Hidup Rasulullah saw)

cropped-p1010783.jpgDi Kota Syam (Syiria) ada seorang pendeta Yahudi yang sangat membenci Rasulullah Muhammad Saw. Pendeta tersebut mempunyai sebuah kegiatan kerohanian yang diadakan tiap Sabtu, dan dihadiri puluhan ribu jema’at.
Suatu saat ketika ia sedang mempersiapkan materi yang akan diajarkan, ia menemukan sejarah keagungan Nabi Muhammad saw dalam kitab Taurat yang dibacanya. Semula terdapat delapan tempat dimana sejarah Rasulullah tertulis dalam kitab agungnya orang Yahudi itu. Karena rasa bencinya kepada Rasulullah, ia merobek delapan tempat tersebut.
Pada hari Sabtu berikutnya (pekan kedua) di kesempatan yang sama ia menyiapkan materi kitab Taurat yang akan diajarkan kepada murid-muridnya. Ia kembali menemukan keterangan dalam kitab tersebut yang menjelaskan tentang sejarah Rasulullah saw pada 16 tempat dan semuanya itu juga ia robek. Kemudian pada pekan hari Sabtu berikutnya (pekan ketiga) saat ia mempersiapkan materi untuk pengajian kitab Tauratnya, kembali ia menemukan 24 tempat dalam kitab tersebut yang menceritakan tentang Rasulullah saw dan semuanya pun juga dirobeknya.
Namun apa yang telah ia lakukan membuat ia menjadi penasaran ingin bertemu dengan Rasulullah Muhammad saw. Ia berpikir jarak antara daerahnya (Syam) dan Kota Madinah adalah perjalanan selama 30 hari (menggunakan onta), sehingga perjalanan itu harus meninggalkan kegiatan rutinnya paling tidak 8 kali pertemuan.
Beberapa orang murid mencoba untuk mengingatkan sang pendeta Yahudi tersebut, “Sebaiknya tuan pendeta tidak menemui Muhammad, karena siapapun orang yang bertemu dengannya pasti akan tunduk padanya, kalau nanti anda tunduk kepada Muhammad, lalu siapa yang nantinya memimpin kami ?”.Mendengar nasehat tersebut pendetapun mengurungkan niatnya pergi ke Madinah untuk menemui Muhammad .
Namun karena penasaran, sepekan kemudian sang pendeta kembali mengutarakan keinginannya yang tertunda tersebut.  Tapi kembali murid-muridnya melarangnya. Hal tersebut terulang tiga kali. Hingga akhirnya pendetapun berkata: ”  Atas kebesaran Nabi Musa dan Kitab Taurat saya harap kalian memperkenankan saya bertemu Muhammad”. Dan para muridpun akhirnya merelakan pendetanya pergi menemui Nabi besar Muhammad saw.
Singkat cerita, berangkatlah sang pendeta ke Madinah. 30 hari kemudian, setiba di pintu gerbang kota, sang pendeta berjumpa seorang lelaki tampan, berkulit putih, berbadan tinggi dan berbaju serba putih. Ia mengira bahwa lelaki itu adalah Muhammad, iapun menyapanya : “Assalamu Alaika yaa Muhammad”.
Namun tanpa disangka, lelaki itu tiba-tiba menangis tersedu-sedu begitu mendengar sapaan tersebut. Si pendeta terheran-heran. Tak lama laki-laki itupun mendekati si pendeta dan menanyakan asal sang pendeta “Anda dari mana ?”. “Saya dari tempat yang jauh, dari Syam dan saya ingin bertemu Muhammad”jawab si pendeta.
Mendengar jawaban tersebut, laki-laki itupun segera mengantarkannya ke Masjid Nabawi.
Di depan pintu masjid pendeta yang sudah tak sabar lagi bertemu Rasulullah segera mengucapkan salam “Assalamu’alaikum, Assalamu Alaika Yaa Muhammad”.
Seketika semua sahabat yang berada di dalamnya menangis tersedu-sedu. Ia semakin kaget karena setiap ia mengucapkan salam kepada penduduk Madinah mereka langsung menangis. Ketika suasana masjid makin penuh disesaki isak suara tangis, sahabat Ali bin Abi Thalib segera menemuinya dan terjadilah percakapan :
Ali ra : “ Anda dari mana ?”
Pendeta : “ Saya dari tempat yang jauh, kota Syam”
Ali ra: “Ada keperluan apa anda kemari ?”
Pendeta : “Saya ingin bertemu Muhammad”,
Ali ra : “ Terlambat…! Seminggu yang lalu beliau wafat,”
Pendeta (sambil penuh penyesalan) : “Kalau begitu saya ingin melihat jubahnya!”
Ali ra lalu menyuruh sahabat Bilal bin Rabah untuk mengambilkan jubah Nabi di rumahnya. Sesampai di depan pintu rumah, Bilal berkata “ Wahai Sayyidah Fatimah, ada tamu ingin melihat jubah Rasulullah, saya disuruh sahabat Ali untuk mengambilkan jubah itu untuknya,”.
Sayyidah Fatimah segera membuka lemari tempat jubah disimpan. Putri bungsu Rasulullah itu langsung menangis teringat bau harum tubuh ayahandanya tercinta. Diciuminya jubah tersebut, sebelum beliau berikan kepada Bilal. Bilalpun kemudian menangis sambil membawanya ke masjid Nabawi. Dan begitu Bilal sampai di masjid, semua sahabat yang berada di dalam masjid menangis teringat Rasulullah saw.
Setelah Bilal menyerahkan jubah kepada Ali, Ali segera memberikan jubah tersebut kepada sang pendeta, yang segera menciuminya seraya berkata “ Ternyata benar, dialah utusan Allah, beginilah bau harum Nabi Muhammad saw seperti yang disampaikan dalam kitab Taurat !“.
Dan ketika jubah itu ia hamparkan, ia melihat dua belas tambalan pada jubah tersebut, sesuai dengan apa yang diterangkan dalam kitab Taurat. Sang pendetapun makin yakin bahwa orang yang baru seminggu meninggal dan ditangisi semua orang itu adalah Muhammad yang tertulis dalam kitabnya, dan ia adalah utusan Allah.
syahadat“ Wahai sahabat Ali, bagaimana cara saya bisa masuk Islam ?”, tanya pendeta.
Katakanlah, Asyhadu an Laa Ilaaha Illa Allah, Wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah” jawab Ali, lembut.
Sang pendeta segera mengikuti ucapan Ali ra. Maka resmilah ia menjadi seorang Muslim.
“ Wahai sahabat Ali! Aku ingin berziarah makam Rasulullah Muhammad Saw”, pintanya tak lama setelah ia bersyahadat.
Ali lalu menyuruh sahabat Bilal untuk mengantarkannya ke makam Rasul. Sesampainya di sana sang bekas pendeta mengangkat kedua tangannya seraya berkata :
 Yaa Allah.. !  Aku ingin bertemu Nabi Muhammad, namun kini aku sudah terlambat, dan aku ingin agar engkau mempertemukanku dengannya di alam barzakh, mohon matikanlah aku !”.
masjid nabawiTiba-tiba iapun terjatuh dan langsung meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Para sahabat kemudian memakamkan mantan pendeta tersebut di pemakaman  Baqi, tak jauh dari masjid Nabawi dimana Nabi yang tadinya dibencinya itu dimakamkan.
Begitulah Allah berkehendak memberikan hidayah kepada seorang pendeta Yahudi yang sangat membenci Rasulullah saw, melalui ayat-ayat yang tertulis dalam kitab Taurat.
Wallahu’alam bish shawwab.
Jakarta, 13 Maret 2017.
Dikutip dari :
Madinah yang merupakan pusat bermulanya Islam sebelum berkembang ke seluruh dunia di mana ia menjadi tempat kelahiran pertama masyarakat Islam. Oleh itu menjadi suatu kemestian untuk mendapat gambaran yang tepat mengenai kedudukan bandar ini dari segi peradaban, kemasyarakatan, ekonomi, hubungan antara qabilah, markaz Yahudi, ketenteraan dan juga suasana yang menjadikan bandar ini mewah dan kaya serta menjadi pusat pertemuan berbilang agama, pelbagai kebudayaan dan masyarakat. Ia berlainan dengan Mekah yang hanya mempunyai satu tabiat, satu agama yang dikongsi bersama oleh semua warganya. Madinah lebih banyak terdapat air, iklimnya lebih sejuk daripada Mekah dan tabiat penduduknya lembah-lembut sesuai dengan kehidupan kaum tani. Sebagai ringkasannya maka keadaan dan suasana Yathrib sebelum kedatangan Islam adalah sebagaimana fakta dan gambaran yang akan disebut dibawah.
a. Kaum Yahudi di Madinah
Menurut ahli sejarah kedatangan kaum Yahudi ke Yathrib selepas peperangan antara bangsa antara Yahudi dengan Rome pada tahun 70 masihi yang berkesudahan dengan musnahnya Palestin dan runtuhnya Haikal atau biara utama Yahudi di Baitul Maqdis. Kaum Yahudi ini terdiri dari tiga qabilah yang terbesar iaitu qabilah Qainuqa’, al-Nadhir dan Quraidzah di mana hubungan antar ketiga qabilah tersebut amat tegang di mana berlaku peperangan sesama mereka yang berterusan sejak peperangan Bu’ath. Mereka tinggal di pelbagai perkampungan khas seperti bani Qainuqa’ tinggal dalam bandar Madinah, bani Nadhor tinggal di sebelah atas luar Madinah di mana kawasan mereka subur dengan tanaman kurma dan tanaman bermusim manakala bani Quraidzah pula tinggal di kawasan yang bernama Mahzur yang jaraknya beberapa batu di selatan Madinah.
Kaum Yahudi memiliki beberapa kubu dan benteng serta kampung di mana mereka hidup berjauhan dan berkelompok yang menyebabkan mereka tidak mampu mendirikan pemerintahan Yahudi sebaliknya terpaksa membayar upeti setiap tahun kepada ketua-ketua beberapa qabilan Arab sebagai perlindungan dari gangguan Arab badwi.
Bangsa Yaudi menyifatkan diri mereka sebagai suatu bangsa yang ahli dalam pengetahuan agama dan syariat di mana mereka mempunyai pusat pengajian sendiri untuk perkara tersebut disamping belajar mengenai sejarah lampau mereka khususnya berkenaan rasul dan nabi mereka. Mereka juga mempunyai tempat khusus untuk beribadat di mana disitulah mereka berkumpul untuk berbincang mengenai agama dan keduniaan mereka. Mereka juga mempunyai perundangan dan tatacara hidup tersendiri yang sebahagiannya diambil daripada kitab suci mereka dan sebahagian lagi dibuat oleh pendeta mereka. Disamping itu mereka mempunyai hari-hari perayaan tertentu, hari-hari tertentu untuk mereka berpuasa seperti hari ‘Asyura.
Hasil pendapatan mereka yang terbesar ialah mengambil keuntungan dari penggadaian barang dan riba. Keadaan Madinah sebagai kawasan pertanian memberi peluang kepada mereka bergiat dengan riba terutama dari petani yang mendapatkan uang sementara menunggu musim menuai. Penggadaian bukan sahaja melibatkan uang atau harta benda sahaja tetapi wanita dan anak-anak juga dijadikan barang gadaian. Kaum Yahudi dapat menguasai ekonomi Madinah dan seterusnya dengan ekonomi yang kukuh mereka menguasai pasar-pasar tanpa bertimbang rasa, mereka menyorok barangan keperluan untuk mengaut keuntungan yang berlipat ganda sehingga mereka dibenci oleh masyarakat Arab setempat. Demi kepentingan ekonomi mereka membuat hubungan dengan kaum Aus dan Khazraj dengan mengadu-domba keduanya yang menyebabkan bangsa Arab lemah dan kaum Yahudi terus menguasai ekonomi Madinah.
Bahasa yang mereka guna ialah bahasa Arab tetapi turut bercampur dengan bahasa Ibrani. Manakala dari segi penyebaran agama Yahudi tidaklah meluas memandangkan mereka tidak berminat mengajak bangsa lain untuk menganut agama Yahudi.
b. Suku Kaum Aus dan Khazraj
Suku kaum Aus dan Khazraj merupakan penduduk berbangsa Arab yang mendiami Yathrib lanjutan daripada qabilah-qabilah al-Azdiyah di Yaman yang berpindah berulangkali dalam masa berbeza disebabkan banyak faktor antaranya kekacauan disebabkan serangan kajum Habshi di Yaman dan juga kemerosotan pengairan apabila robohnya bendungan Ma’rib. Mereka merupakan suku kaum yang mendiami Yathrib kemudian daripada kaum Yahudi.
Kaum Aus tinggal di selatan dan timur iaitu bahagian tinggi Yathrib yang merupakan kawasan pertanian yang subur manakala Kaum Khazraj berada di tengah sebelah utara iaitu bahagian rendah bandar yang merupakan kawasan kurang subur. Jumlah kaum Aus dan Khazraj menurut perkiraan berdasarkan keikut sertaan mereka dalam peperangan setelah hijrah iaitu semasa penaklukan Mekah ialah 4000 orang.
Kedudukan kaum Arab di Yathrib di masa hijrah adalah kuat di mana merekalah yang menguasai urusan di situ. Berpecahan kaum yahudi menyebabkan mereka tidak mampu menyaingi bangsa Arab terutama ada daripada mereka yang bersama kaum Aus dan ada pula bersama kaum Khazraj. Namun begitu bangsa Arab suku Aus dan Khazraj turut berperang sesama mereka di mana perang Samir merupakan peperangan pertama dan diakhiri dengan peperangan Bu’ath lima tahun sebelum hijrah. Kaum Yahudilah yang memanas-manasi mereka dan mendesak agar mereka berpecah dengan menanamkan semangat dengki. Akhirnya mereka tidak mampu menghadapi kaum Yahudi. Namun demikian, akal bulus mereka disadari oleh bangsa Arab di mana mereka men-cap kaum Yahudi sebagai ‘musang’.
c. Kedudukan Geografi Bandar Madinah
Yathrib atau Madinah ketika hijrahnya nabi s.a.w ke sana terbahagi kepada beberapa buah daerah yang didiami oleh beberapa keturunan Arab dan Yahudi di mana setiap daerah terbahagi pula kepada dua bahagian iaitu bahagain pertama meliputi tanah pertanian manakala bahagian kedua meliputi benteng dan kubu pertahanan. Benteng pertahanan ini adalah penting bagi melindungi kaum wanita, anak-anak dan orang-orang lemah ketika diserang oleh musuh. Ia juga dijadikan tempat untuk menyimpan hasil panen dan buahan kerana letak Bandar Yathrib yang terbuka dengan tempat terbuka untuk musuh menyerang dan merampas harta benda dan ia juga dijadikan tempat menyimpan harta dan senjata. Disamping mempunyai biara untuk beribadat dan tempat pengajian di dalamnya, di dalam benteng ini dipenuhi dengan peralatan rumah yang mahal serta pelbagai kitab agama. Di situ juga kaum Yahudi berkumpul dan berbincang juga bersumpah dengan kitab suci mereka ketika melakukan sesuatu perjanjian atau muafakat.
Madinah dikelilingi banyak gunung-gunung batu Harrah yang menjadi benteng pertahanan dari serangan musuh. Di sebelah utaranya terbuka untuk lintasan sementara lintasan lainnya dibentengi oleh pohon-pohon kurma yang tebal yang tidak mampu dilalui oleh tentera kecuali mengikut jalan-jalan sempit yang tidak sesuai bagi perjalanan tentera dan mengatur barisan. Bahagian-bahagian yang berhutan tebal dengan pohon-pohoin kurma itu merupakan tempat kawalan tentera yang tersembunyi dan cukup untuk mengkucar-kacirkan barisan tentera musuh dan menghalangnya daripada membuat serangan.
Alam asli telah menjadikan Yathrib tanah lahar muntahan gunung berapi yang menjadikan buminya amat subur selain banyak jeram dan kawasan lembah yang dapat dapat menampung air bagi perairan kurma dan tanaman lain. Wadi menjadi tempat rekreasi Madinah di mana dari wadi ini mengalir air ke ladang. Selain itu tanah Yathrib begitu sesuai untuk digali sumur dalam ladang-ladang.
d. Keadaan Agama dan Kedudukan Kemasyarakatan di Madinah
Umumnya semua bangsa Arab mengikut pegangan agama kaum Quraisy dan penduduk Mekah memandang mereka sebagai penjaga Ka’abah dan juga sebagai pemimpin dalam agama dan sebagai panutan dalam aqidah dan peribadatan. Mereka menyembah berhala Cuma hubungan mereka dengan sebahagian berhala seperti Manat lebih daripada yang lain terutama kaum Aus dan Khazraj.
Sebuah hadith riwayat Imam Ahmad dari ‘Urwah daripada Sayyidatina ‘Aisyah yang menafsirkan ayat 158 surah al-Baqarah yang bermaksud :
Sesungguhnya berjalan antara Sofa dan Marwah itu sebahagian tanda-tanda taat kepada Allah maka sesiapa yang mengerjakan haji di Baitullah atau mengerjakan umrah, maka tiada kesalahan ia berulang alik di dua tempat itu….
Kata Sayyidatina ‘Aisyah mengenai ayat ini, maksudnya : Kaum Ansar sebelum memeluk Islam memuja berhala Manat yang rupanya garang di mana mereka sembah di Musyallal. Ada di antara mereka memuja berhala itu keberatan untuk bersa’ie di Sofa dan Marwah. Mereka bertanya kepada Rasulullah s.a.w : “Wahai Rasulullah! Kami keberatan untuk bersa’ie di Sofa dan Marwah pada masa jahiliyah dahulu”. Lalu Allah menurunkan ayat di atas.
Penduduk Madinah tidak menyembah patung berhala secara meluas tidak seperti di Mekah dan sebenarnya orang-orang Madinah menyembah berhala hanya mengikut orang-orang Mekah.
Warga Madinah mempunyai dua hari perayaan iaitu hari Nauruz dan Maharjan yang mereka ambil daripada orang-orang Parsi untuk bersuka-suka tetapi setelah kedatangan Islam ia dihapuskan.
e. Keadaan Ekonomi dan Peradaban di Madinah
Bandar Yathrib atau Madinah merupakan bumi pertanian di mana kebanyakan penduduknya bergantung kepada hasil bertani dan berladang di mana hasil utamanya ialah kurma dan anggur. Pohon kurma banyak kegunaannya iaitu buahnya dijadikan makanan, batangnya dijadikan bahan bangunan, perusahaan kayu, bahan bakar dan makanan binatang ternak. Jenis bijian yang merupakan makanan asas penduduk Yathrib ialah barli kemudian gandum dan juga banyak ditanam sayuran.
Bagi mereka ada cara bertani, sewa tanah, Muzabanah iaitu menjual kurma yang masih ditandannya dengan kurma yang sudah ditimbang dengan taksiran, Muhaqalah iaitu menjual hasil tanaman barli atau gandum yang masih ditangkainya dalam ladang juga dengan taksiran, Mukhabarah dan Muzara’ah di mana kedua-duanya hampir sama iaitu pembahagian hasil tanaman antara pengusaha dengan tuan tanah sepertiga atau seperempat tetapi benih diberikan oleh tuan tanah kepada pengusaha tanaman itu. Mukhabarah ialah benih yang disediakan sendiri oleh pengusaha manakala Mu’awanah pula ialah penjualan hasil buahan selama 2 atau 3 tahun atau pun lebih. Mata uang di Mekah dan Madinah adalah sama. Dalam urusan jual beli banyak digunakan taksiran/sukatan di Madinah berbanding di Mekah kerana penduduk Madinah banyak bergantung kepada bijian dan buahan.
Kesuburan tanah Madinah masih tidak mampu menampung keperluan makanan penduduknya yang menyebabkan mereka mengimport tepung putih, minyak sapi dan madu dari Syam. Kegiatan perniagaan memang ada walau pun tidak sehebat penduduk Mekah di mana warga lembah tanpa tanaman dan tanpa air yang mencukupi maka mereka bergantung hidup kepada aktivititas perdagangan pada musim panas dan musim sejuk.
Ada perusahaan pertukangan di Madinah yang kebanyakannya diusahakan oleh kaum Yahudi di mana pada umumnya Yahudi bani Qainuqa’ adalah tukang emas. Ada beberapa pasar di Madinah milik bani Qainuqa’ menjadi pusat jual beli barang perhiasan dari emas begitu juga pasar jualan bijih-bijih benih. Kaum Yahudi sebagaimana diketahui lebih kaya daripada bangsa Arab di mana Arab dengan sifat kekampungan dan kurang berfikir serta boros dengan uang memaksa mereka bergadai dengan kaum Yahudi yang kebanyakkannya gadaian itu dikenakan riba berlipat ganda. Warga Madinah juga mempunyai harta kekayaan berupa unta, lembu dan kambing di mana mereka gunakan unta untuk pengairan tanaman. Beberapa padang ragut kepunyaan mereka di mana dari situlah mereka mendapatkan kayu api disamping mengembala binatang ternakan.
Madinah menjadi penghasil tenunan dari kapas dan sutera, bantal sandar beraneka warna dan tabir-tabir yang berlukis. Selain itu banyak peniaga minyak wangi menjual atar dan kasturi serta anbar dan raksa. Cara-cara jual beli pada masa itu ada yang dilanjutkan oleh Islam dan ada yang dilarang seperti amalan menyorok barang, lelangan barangan di mana diberikan kepada mereka yang menawarkan harga paling tinggi, menyambut dan menemui penunggang-penunggang di luar Madinah, menjual susu yang masih berada dalam unta atau kambing, menjual dengan bayaran bertangguh, menjual dengan agak-agak sahaja dan lain-lain. Ada juga kaum Aus dan Khazraj yang berurusan dengan riba tetapi jarang berbanding kaum Yahudi. Warga Madinah juga membuat kerja menjahit, menyamak kulit, membina rumah, mengukir dan sebagainya yang terkenal di masa sebelum hijrah.
 Di copas dari :
“Wahai saudaraku! Jangan engkau dekati Muhammad itu. Dia orang gila. Dia pembohong. Dia tukang sihir. Jika engkau mendekatinya, engkau akan dipengaruhinya dan engkau akan menjadi seperti dia,” kata seorang pengemis buta Yahudi berulang-ulang kali di satu sudut pasar di Madinah pada setiap pagi sambil tangannya menadah meminta belas orang yang lalu-lalang.
Orang yang lalu-lalang di pasar itu ada yang menghulurkan sedekah kerana kasihan malah ada juga yang tidak mempedulikannya langsung.
Pada setiap pagi, kata-kata menghina Rasulullah SAW itu tidak lekang daripada mulutnya seolah-olah mengingatkan kepada orang ramai supaya jangan terpedaya dengan ajaran Rasulullah SAW. Seperti biasa juga, Rasulullah SAW ke pasar Madinah. Apabila baginda sampai, baginda terus mendapatkan pengemis buta Yahudi itu lalu menyuapkan makanan ke mulutnya dengan lembut dan bersopan tanpa berkata apa-apa.
Pengemis buta Yahudi yang tidak pernah bertanya siapakah yang menyuapkan itu begitu berselera sekali apabila ada orang yang baik hati memberi dan menyuapkan makanan ke mulutnya.
Perbuatan baginda itu dilakukannya setiap hari sehinggalah baginda wafat. Sejak kewafatan baginda, tidak ada sesiapa yang sudi menyuapkan makanan ke mulut pengemis itu setiap pagi.
Pada satu pagi, Saidina Abu Bakar ra pergi ke rumah anaknya, Siti Aisyah yang juga merupakan isteri Rasulullah SAW untuk bertanyakan sesuatu kepadanya.
“Wahai anakku Aisyah, apakah kebiasaan yang Muhammad lakukan yang aku tidak lakukan?”, tanya Saidina Abu Bakar ra sebaik duduk di dalam rumah Aisyah.
“Ayahandaku, boleh dikatakan apa sahaja yang Rasulullah lakukan, ayahanda telah lakukan kecuali satu,” beritahu Aisyah sambil melayan ayahandanya dengan hidangan yang tersedia.
“Apakah dia wahai anakku, Aisyah?”
“Setiap pagi Rasulullah akan membawa makanan untuk seorang pengemis buta Yahudi di satu sudut di pasar Madinah dan menyuapkan makanan ke mulutnya. Sejak pemergian Rasulullah, sudah tentu tidak ada sesiapa lagi yang menyuapkan makanan kepada pengemis itu,” beritahu Aisyah kepada ayahandanya seolah-olah kasihan dengan nasib pengemis itu.
“Kalau begitu, ayahanda akan lakukan seperti apa yang Muhammad lakukan setiap pagi. Kamu sediakanlah makanan yang selalu dibawa oleh Muhammad untuk pengemis itu,” beritahu Saidina Abu Bakar ra kepada anaknya.
Pada keesokan harinya, Saidina Abu BAkar ra membawakan makanan yang sama seperti apa yang Rasulullah SAW bawakan untuk pengemis itu sebelum ini. Setelah puas mencari, akhirnya beliau bertemu juga dengan pengemis buta itu. Saidina Abu Bakar ra segera menghampiri dan terus menyuapkan makanan ke mulut pengemis itu.
“Hei… Siapakah kamu? Berani kamu menyuapku?” Pengemis buta itu mengherdik Saidina Abu Bakar ra. Pengemis buta itu terasa lain benar perbuatan Saidina Abu Bakar ra itu seperti kebiasaan.
“Akulah orang yang selalu menyuapmu setiap pagi,” jawab Saidina Abu Bakar ra sambil memerhatikan wajah pengemis buta itu yang nampak marah.
“Bukan! Kamu bukan orang yang selalu menyuapku setiap pagi. Perbuatan orang itu terlalu lembut dan bersopan. Aku dapat merasakannya, dia terlebih dahulu akan menghaluskan makanan itu kemudian barulah menyuap ke mulutku. Tapi kali ini aku terasa sangat susah aku hendak menelannya,” balas pengemis buta itu lagi sambil menolak tangan Saidina Abu Bakar ra yang masih memegang makanan itu.
“Ya, aku mengaku. Aku bukan orang yang biasa menyuapmu setiap pagi. Aku adalah sahabatnya. Aku menggantikan tempatnya,” beritahu Saidina Abu Bakar ra sambil mengesat air matanya yang sedih.
“Tetapi ke manakah perginya orang itu dan siapakah dia?”, tanya pengemis buta itu.
“Dia ialah Muhammad Rasulullah. Dia telah kembali ke rahmatullah. Sebab itulah aku yang menggantikan tempatnya,” jelas Saidina Abu Bakar ra dengan harapan pengemis itu berpuas hati.
“Dia Muhammad Rasulullah?”, kata pengemis itu dengan suara yang terkedu.
“Mengapa kamu terkejut? Dia insan yang sangat mulia,” beritahu Saidina Abu Bakar ra. Tidak semena-mena pengemis itu menangis sepuas-puasnya. Setelah agak reda, barulah dia bersuara.
“Benarkah dia Muhammad Rasulullah?”, pengemis buta itu mengulangi pertanyaannya seolah-olah tidak percaya dengan berita yang baru didengarnya itu.
“Ya benar. Kamu tidak percaya?”
“Selama ini aku menghinanya, aku memfitnahnya tetapi dia sedikit pun tidak pernah memarahiku malah dia terus juga menyuap makanan ke mulutku dengan sopan dan lembut. Sekarang aku telah kehilangannya sebelum sempat memohon ampun kepadanya,” ujar pengemis itu sambil menangis teresak-esak.
“Dia memang insan yang sangat mulia. Kamu tidak akan berjumpa dengan manusia semulia itu selepas ini kerana dia telah pun meninggalkan kita,” beritahu Saidina Abu Bakar ra.
“Kalau begitu, aku mahu kamu menjadi saksi. Aku ingin mengucapkan kalimah syahadah dan aku memohon keampunan Allah,” ujar pengemis buta itu.
Selepas peristiwa itu, pengemis itu telah memeluk Islam di hadapan Saidina Abu Bakar ra. Keperibadian Rasulullah SAW telah memikat jiwa pengemis itu untuk mengakui ke-Esaan Allah..
 
DAFTAR ISI SIRAH NABAWIYAH ( Sejarah Hidup Rasulullah saw)

Read More »
09:44 | 0 komentar

Bangko Ijin Cuti Bagi PNS, Terbaru

Bagi guru PNS yang akan mengajukan cuti untuk Umroh/Haji berikut adalah blangko permohonan ijin. Terutama bagi guru di Jawa Tengah.
Dari penulis pernah mengajukan samapi bolak balik 3x ini yang terupdate. Semoga bermanfaat.
Syarat-syarat yang harus dilampirkan adalah sebagai berikut:
1. Fc. SK PNS
2. Fc. SK Pangkat terakhir
3. Fc. SK Peralihan Propinsi
4. Bukti/Kwitansi pembayaran
5. Jadwal perjalanan umroh/haji
6. Surat Keterangan dari depag/Biro
7. Surat pengajuan cuti umroh
8. Surat pernyataan biaya umroh(Download)

Semua berkas dibuat rangkap 4, 2 untuk propinsi, 1 untuk BP2MK dan 1 untuk sekolah.
Berikut contoh Surat Pengajuan Cuti Umroh:

Banjarnegara, 23 Oktober 2017


CUTI KARENA ALASAN PENTING
Kepada Yth:
Gubernur Jawa Tengah
up. Kepala BKD Propinsi Jawa Tengah
di
             SEMARANG


  1. Yang bertanda tangan di bawah ini:

N  a  m  a                   : SARASTIANA, SPd,MBA
N   I    P                      : 19711118 200801 1 005
Pangkat/Gol.Ruang   : Penata/III-c
Jabatan                      : Guru Muda
Satuan Organisasi     : SMA Negeri 1 Banjarnegara DPK di SMK Panca Bhakti
                                      Banjarnegara

dengan ini mengajukan permintaan cuti karena alasan penting selama 7 (tujuh) hari terhitung mulai tanggal 27 November sampai dengan 06 Desember 2017 karena menjalankan Ibadah Umroh ke Tanah Suci Mekkah.

  1. Alamat saya selama menjalankan cuti karena alasan penting adalah di Mekkah dan Madinah Arab Saudi.

3.    Demikian permintaan  ini saya buat untuk dapat dipertimbangkan sebagaimana mestinya.      

Hormat saya,



Sarastiana,SPd,MBA
NIP.19711118 200801 1 005


CATATAN PERTIMBANGAN ATASAN LANGSUNG
KEPUTUSAN PEJABAT YANG BERWENANG


Kepala SMAN 1 Banjarnegara




Drs. Yusuf Hary Cahyono
Pembina
NIP. 19581020 198803 1 005

a.n. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah
Sekretaris



Drs. MULYONO,M.Pd
Pembina Tk.I
NIP. 19600321 198403 1 004

Read More »
21:29 | 0 komentar

Ismail-Ismail yang Kita miliki


Hari Raya Idul Adha atau yang lebih dikenal Hari Raya Qurban adalah bentuk ketaqwaan insan (Nabi Ibrahim as) terhadap Rabbnya. Hal ini perlu diaktualisasikan dalam kehidupan, dalam keseharian yang sangat sampai saat ini masih sangat relevan untuk diteladani.

Keteguhan Nabi Ibrahim dalam memegang prinsip,prinsip tauhid. sebagaimana tertera dalam QS. At Taubah:114.,tidak putus asa, bersikap lemah lembut pada sesama. Ibrahim sebagai keluarga yang demokratis dan terbuka.
Bagi kita berkorban ibaratnya bagaimana kita menyembelih watak dan tabiat kehewanian kita, seperti mau menang sendiri, tamak, rakus, bakhil dan arogan. Sehingga kita semakin terasa rasa empati terhadap saudara2 kita yang kurang beruntung, sikap selalu ingin dekat dengan Allah dapat mendayagunaka potensi diri sehingga ibadah yang dilakukan menjadi sempurna.
Pengorbanan adalah inti dari keberagaman. Kita dapat beribadah dengan baik dengan mengorbankan kesenangan, waktu, harta. Peristiwa kurban sebuah simbolik. Ibrahim memiliki Ismail. Kita pun memiliki ismai-ismail yang berupa keluarga, istri anak harta benda yang berlimpah, pangkat, jabatan. Bagaimana ismail-ismail itu akan melenakan kita serta terbuai sehingga melanggar aturan, ketentuan moral.
Kita berharap agar ismail-ismail yang kita miliki dapat menyelamatkan kita dunia akhirat.

Read More »
22:26 | 0 komentar

Sahabat Rosululloh Langsung Datang Ke Nusantara Untuk Sebarkan Islam


*TERNYATA ISLAM MASUK INDONESIA BUKAN DARI PEDAGANG GUJARAT (VERSI BELANDA).*
*YANG BENAR ISLAM DI PERKENALKAN OLEH ROSULULLOH TH 625 M MELALUI UTUSAN ALI BIN ABI THALIB DLL*

*Maa Syaa Alloooh... Fakta Sejarah Mencengangkan. Rekam Jejak Dakwah Para Sahabat Nabi di Indonesia*
(Ini rangkuman taushiyah Ustd. Dr. Haikal Hassan tentang Peradaban Islam di Indonesia. Berikut ini cuplikannya:

====================
*FAKTA SEJARAH ISLAM DI INDONESIA YG DIBELOKKAN OLEH BELANDA !!*
πŸ•‹πŸ•ŒπŸ•‹πŸ•ŒπŸ•‹πŸ•ŒπŸ•‹πŸ•Œ

*SEJARAH ISLAM PERTAMA KALI MASUK  KE INDONESIA, YG BELUM DIKETAHUI OLEH UMAT ISLAM*
Mau tanya, adakah diantara kita yg pernah membaca buku sejarah bahwa Sahabat Nabi Ali bin Abi Talib pernah ke Jepara Indonesia?
====================

πŸ’Ž *Islam masuk ke indonesia pada  kekhalifahan Generasi Terbaik  (Khulafaur Rasyidin)* πŸ’Ž

➡*Islam pertama kali masuk ke indonesia BUKAN melalui jalur perdagangan dan bukan dalam hal perekonomian*.
➡ *Allah Subhanahu Wa Ta'ala menegaskan tentang wilayah dakwah Nabi Muhammad ο·Ί :*

 ΩˆَΩ…Ψ§َ Ψ£َΨ±ْΨ³َΩ„ْΩ†َΨ§Ωƒَ Ψ₯ِΩ„َّΨ§ Ψ±َΨ­ْΩ…َΨ©ً Ω„ِΩ„ْΨΉَΨ§Ω„َΩ…ِيْΩ†َ -
🌿*"Dan Kami (Allah) tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam" (Qs. AL-Anbiya:107)*

πŸ‘‰ *Ali bin Abi Thalib, pernah datang dan berdakwah di Garut, Cirebon, Jawa Barat (Tanah Sunda), Indonesia, tahun 625 M. [1]*

πŸ‘‰ *Ja'far bin Abi Thalib, berdakwah di Jepara, Kerajaan Kalingga, Jawa Tengah (Jawa Dwipa), Indonesia,sekitar tahun 626 M. [2]*

πŸ‘‰ *Ubay bin Ka'ab, berdakwah di Sumatera Barat, Indonesia, kemudian kembali ke Madinah. Sekitar tahun 626 M. [3]*

πŸ‘‰ *Abdullah bin Mas'ud, berdakwah di Aceh Darussalam dan kembali lagi ke Madinah sekitar tahun 626 M. [4]*

πŸ‘‰ *'Abdurrahman bin Mu'adz bin Jabal, dan putera-puteranya Mahmud dan Isma'il, berdakwah dan wafat dimakamkan di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara sekitar tahun 625 M. [5]*

πŸ‘‰ *Akasyah bin Muhsin Al-Usdi, berdakwah di Palembang, Sumatera Selatan dan sebelum Rasulullah Wafat, ia kembali ke Madinah sekitar tahun 623 M. [6]*

πŸ‘‰ *Salman Al-Farisi, berdakwah Ke Perlak, Aceh Timur dan Kembali Ke Madinah sekitar tahun 626 M. [7]*

*"keterangan: ( [1] s/d[7] bisa dilihat dibawah, di footnote)"*

♨ Seperti yg kita ketahui sebelumnya *_di pelajari di sekolah bahwa islam datang melalui pedagang gujarat india_*. *Padahal bukan seperti Itu, ini adalah TEORI PARA KAFIR,* 

Ini cara para orientalis, yang *disebarkan oleh orientalis terkemuka Belanda, yg pertama kali bernama  "J. Pijnapel" lalu "Snouck Hurgronje" yg notebene "ingin menghancurkan Islam" untuk menutupi sejarah bahwa Indonesia adalah bagian pada kekhilafahan Utsman bin affan*.
*_Oleh karena itu Indonesia patut diperhitungkan_*.

πŸ“*_Demi mencapai tujuannya itu, ia mempelajari bahasa Arab, mengaku sebagai seorang Muslim, dan bahkan mengawini seorang Muslimah, anak seorang tokoh di zamannya_

πŸ”Ž *Sebuah artefak ditemukan* bahwa saat itu di indonesia tepatnya dipulau jawa yaitu *KALINGGA, Jepara.* 

*Pada tahun 640-650 M ada sebuah kerajaan yg ratunya adil bernama RATU SIMA dan anaknya bernama RATU JAYISIMA.*

🌟Ketika itu ada seorang dari tanah arab yg diutus *pada masa Utsman bin Affan dari BANI UMAYYAH. Bani Umayyah adalah kekhalifahan Islam pertama (Muawiyah bin Abu Sofyan) setelah masa Khulafar Rasyidin.*

*Lalu singgah di Kalingga-Jepara, kemudian Ratu Sima dan Putrinya masuk islam dan memerintah dari tahun 646-650 M, dan islam belum berkembang saat itu, lalu ditandai adanya surat-menyurat atau korespondesi antara Ratu Sima pada masa Bani Umayyah untuk di datangkan guru-guru untuk berdakwah.*

 *Surat-surat mereka sekarang tersimpan di MUSEUM GRANADA, SPANYOL.* Indonesia adalah salah satu *sasaran atau tujuan sahabat-sahabat nabi untuk berdakwah.*

↪ Setelah masa kekhalifahan Utsman Bin Affan, lalu Ali bin Abu Thalib & kemudian *di gantikan oleh tabi'in UMAR BIN ABDUL AZIZ yg memerintah pada tahun 711 M*.

➿ Pada 7 tahun kemudian *tepatnya 718 M, Khalifah UMAR BIN ABDUL AZIZ & anaknya ABDUL MALIK telah menginjakan kaki di Palembang - Sumatra Selatan*.

➿ Pada waktu itu *Palembang dipimpin oleh seorang Raja Sriwijaya yg bernama RAJA SRINDRA VARMA.* 

*Ternyata dakwah Umar bin Abdul Aziz membuat Raja tertarik lalu masuk islam.*

πŸ“ŒTerbukti *di makamnya tertuliskan kalimat Lailla hailallah Muhammad Rasulullah*.

 Lalu di tandai juga ada *surat-menyurat (korespondensi) antara Raja Srindra Varma dengan khalifah Umar bin Abdul Aziz* yg juga untuk meminta didatangkannya para guru untuk berdakwah. *Yg kini surat-suratnya di simpan di Museum Oxford, inggris.*

✊ *Setelah Rasulullah ο·Ί wafat, sahabat-sahabat nabi menyebar keseluruh penjuru dunia untuk berdakwah profesi mereka yg utama pada waktu itu.*

↪ *Benarlah akan nubuwah Rasulullah ο·Ί  bersabda:*

*"Aku berwasiat kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan mendengar serta taat (kepada pemerintahan Islam) walaupun yang memimpin kalian adalah seorang hamba sahaya dari negeri Habasyah.* 

*Sesungguhnya barangsiapa hidup sesudahku niscaya dia akan melihat banyak perselisihan, maka wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku*. 

*"Berpeganglah kalian dengannya dan gigitlah ia dengan gigi gerahammu serta jauhilah oleh kalian perkara agama yang diada-adakan karena semua yang baru dalam agama adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat.”*
πŸ“ƒ *_(HR Ahmad,Abu Dawud,Tirmidzi,Dzahabi dan Hakim, disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al jami’ no. 2549)_*

☝ *Sejak 633 M* *Rasulullah ο·Ί wafat⤵*
*_(maka khulafaur Rasyidin yg memimpin)_*
*~Thn 634 M kekhalifahan Abu Bakar  = 2 thn*
*~Thn 644 M kekhalifahan Umar Bin Khattab = 10 thn*
*~Thn 657 M kekhalifahan Utsman Bin Affan = 13 thn*
*~Thn 661 M kekhalifahan Ali Bin Abi Thalib = 5 thn.*
*_Jadi totalnya adalah selama 30 thn._*

➡ *Inilah 30 tahun masa khilafah ala manhaj nubuwwah, seperti disebutkan oleh Nabi shallalahu alaihi wa sallam*.

🌟 *Bahwa kehebatan & keistimewaan Nabi Muhammad ο·Ί dalam memimpin strategi dakwah islam ke seluruh dunia*.

*Dengan mendalami atau memahami sejarah maka Aqidah kita akan lurus yg harus dibarengi dengan akhlakul karimah.*

*_Semoga Bermanfaat...Wa billahi taufiq walhidayah.._*

▫▫▫▫▫▫▫▫▫
*Perlu diketahui:*

➰ Bilal Bin Rabbah tidak dimakamkan di Saudi Arabia melainkan di Damascus.

➰ Sa'ad Bin Abi Waqas tidak dimakamkan di madinah atau mekkah melainkan di Guang Zsu (Cina).

➰ Abu Kasbah berdakwah dan dimakamkan di Tiongkok.

~~~~~~~~~~☆~~~~~~~
*πŸ”ΉFootnote:*

[1] Sumber: H. Zainal Abidin Ahmad, Ilmu politik Islam V, Sejarah Islam dan Umatnya sampai sekarang, 1979; Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.31; S. Q. Fatini, Islam Comes to Malaysia, Singapura: M. S. R.I., 1963, hal. 39)

[2] Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.33)

[3] Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.35

[4] Sumber: G. E. Gerini, Futher India and Indo-Malay archipelago

[5] Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.38

[6] Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.39; Pangeran Gajahnata, Sejarah Islam Pertama Di Palembang, 1986; R.M. Akib, Islam Pertama di Palembang, 1929;  T. W. Arnold, The Preaching of Islam, 1968.

[7] Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.39.

πŸ”˜ Asy-Syaikh As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Hafizh (Syekh Mufti Kesultanan Palembang Darussalam)

πŸ”˜ Prof. Dr. HAMKA; Dari Perbendaharaan Lama; Pustaka Panjimas; cet. III; Jakarta;
 Insha Allah benar

Read More »
11:35 | 0 komentar