Assalamu'alaikum ! welcome to Media Pendidikan.| Contact | Register | Sign In
Showing posts with label Wisata Rohani. Show all posts
Showing posts with label Wisata Rohani. Show all posts

Pendaftaran Tiket Kesurga Dibuka Kembali

@kajianhariansunnah
Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh kebaikan dan berkah, dibukakan didalamnya semua pintu surga dan ditutup semua pintu neraka, sebagai pertanda akan melimpahnya kebaikan di bulan Ramadhan, dan sebab-sebab seorang hamba menggapai ampunan dan keridhoan Allah. Maka berkuranglah keburukan di muka bumi dikatakan dalam sebuah hadist : “Jika datang bulan ramadhan maka dibukakan semua pintu langit, dan dalam riwayat yang lain pintu-pintu surga, dalam riwayat yang lain pintu-pintu rahmat, dan dikunci semua pintu neraka dan dibelenggu semua setan.” ( Al-Bukhari 112/4 dan Muslim 1079)

Read More »
14:38 | 0 komentar

Pahala Haji dan Umroh, Sholat Isyroq


Dari ‘Abdullah bin Al Harits, ia berkata,
أن ابن عباس كان لا يصلي الضحى حتى أدخلناه على أم هانئ فقلت لها : أخبري ابن عباس بما أخبرتينا به ، فقالت أم هانئ : « دخل رسول الله صلى الله عليه وسلم في بيتي فصلى صلاة الضحى ثمان ركعات » فخرج ابن عباس ، وهو يقول : « لقد قرأت ما بين اللوحين فما عرفت صلاة الإشراق إلا الساعة » ( يسبحن بالعشي والإشراق) ، ثم قال ابن عباس : « هذه صلاة الإشراق »


Sumber : https://rumaysho.com/784-meraih-pahala-haji-dan-umroh-melalui-shalat-isyroq.html
Dari ‘Abdullah bin Al Harits, ia berkata,
أن ابن عباس كان لا يصلي الضحى حتى أدخلناه على أم هانئ فقلت لها : أخبري ابن عباس بما أخبرتينا به ، فقالت أم هانئ : « دخل رسول الله صلى الله عليه وسلم في بيتي فصلى صلاة الضحى ثمان ركعات » فخرج ابن عباس ، وهو يقول : « لقد قرأت ما بين اللوحين فما عرفت صلاة الإشراق إلا الساعة » ( يسبحن بالعشي والإشراق) ، ثم قال ابن عباس : « هذه صلاة الإشراق »


Sumber : https://rumaysho.com/784-meraih-pahala-haji-dan-umroh-melalui-shalat-isyroq.html
Ibnu ‘Abbas pernah tidak shalat Dhuha sampai-sampai kami menanyakan beliau pada Ummi Hani, aku mengatakan pada Ummi Hani, “Kabarilah mengenai Ibnu ‘Abbas.” Kemudian Ummu Hani mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat Dhuha di rumahku sebanyak 8 raka’at.” Kemudian Ibnu ‘Abbas keluar, lalu ia mengatakan, “Aku telah membaca antara dua sisi mushaf, aku tidaklah mengenal shalat isyroq kecuali sesaat.” (Allah berfirman yang artinya), “Mereka pun bertasbih di petang dan waktu isyroq (waktu pagi).”1 Ibnu ‘Abbas menyebut shalat ini dengan SHALAT ISYROQ.

Dari ‘Abdullah bin Al Harits, ia berkata,
أن ابن عباس كان لا يصلي الضحى حتى أدخلناه على أم هانئ فقلت لها : أخبري ابن عباس بما أخبرتينا به ، فقالت أم هانئ : « دخل رسول الله صلى الله عليه وسلم في بيتي فصلى صلاة الضحى ثمان ركعات » فخرج ابن عباس ، وهو يقول : « لقد قرأت ما بين اللوحين فما عرفت صلاة الإشراق إلا الساعة » ( يسبحن بالعشي والإشراق) ، ثم قال ابن عباس : « هذه صلاة الإشراق »


Sumber : https://rumaysho.com/784-meraih-pahala-haji-dan-umroh-melalui-shalat-isyroq.html

Keutamaan Shalat Isyroq 

“Barangsiapa yang mengerjakan shalat shubuh dengan berjama’ah di masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan shalat sunnah Dhuha, maka ia seperti mendapat pahala orang yang berhaji atau berumroh secara sempurna.”


Tata Cara Pelaksanaan Shalat Isyroq 

  1. Shalat isyroq dilakukan sebanyak dua raka’at. Gerakan dan bacaannya sama dengan shalat-shalat lainnya. 
  2. Berdasarkan hadits-hadits yang telah dikemukakan, shalat isyroq disyariatkan bagi orang yang melaksanakan shalat jama’ah shubuh di masjid lalu ia berdiam untuk berdzikir hingga matahari terbit, lalu ia melaksanakan shalat isyroq dua raka’at. 
  3. Ketika berdiam di masjid dianjurkan untuk berdzikir. Dzikir di sini bentuknya umum, bisa dengan membaca Al Qur’an,membaca dzikir, atau lebih khusus lagi membaca dzikir pagi. 
  4. Waktu shalat isyroq sebagaimana waktu dimulainya shalat Dhuha yaitu mulai matahari setinggi tombak, sekitar 15-20 menit setelah matahari terbit. Hal ini sebagaimana keterangan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin5 dan Al Lajnah Ad Daimah6 mengenai pengertian matahari setingi tombak.

Read More »
16:44 | 0 komentar

Surat Al Kahfi 1 - 10, Hanan Attaki


Bismillah hirokhmanirohim.
Pada Jumat ini, 11 Mei 2018 saya memposting Qur'an Surat Al Kahfi 1-10. Surat Al Kahfi di anjurkan dibaca pada hari jumat, diantaranya adalah

Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ
Siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, maka ia akan terlindungi dari Dajjal.” (HR. Muslim no. 809)




Read More »
08:09 | 0 komentar

The Power of Love, 212


Film 212 The Power of Love, tengah digandrungi banyak orang karena diangkat dari kisah nyata aksi 212. Rilis pada 9 Mei, 212 The Power of Love bertemakan genre religi yang mengundang banyak kaum muslim untuk menontonnya.
Disutradarai oleh Jastis Arimba, beberapa nama pemain film 212 The Power of Love meliputi Fauzi Baadilla, Meyda Sefira, Hamas Syahid dan lainnnya. Keluarnya film 212 The Power of Love dalam bioskop Tanah Air juga disertai dengan kampanye tagar #putihkanbioskop.
Oki Setiana Dewi, sebagai produser film turut mengunggah cuplikan film 212 The Power of Love pada akun Instagram-nya untuk menimbulkan rasa penasaran bagi para penonton. Alur cerita film 212 The Power of Love sendiri diangkat dari kisah Rahmat, seorang jurnalis di Majalah Republik yang punya sifat dingin dan cenderung sinis. Suatu hari Rahmat mendapat kabar bahwa ibunya meninggal dunia yang membuatnya pulang ke Ciamis, setelah 10 tahun merantau. Rahmat punya alasan di masa lalu yang membuatnya tak pernah pulang.
Referensi:Liputan6.com

Read More »
06:04 | 0 komentar

Tentang Sumur Utsman

Sahabat Utsman bin Affan RA, termasuk salah satu sahabat yang terkenal hartawan, namun tetap bersikap dermawan, murah hati, dan perhatian terhadap sesama. 
Kepeduliannya membela agama Allah SWT tak lagi diragukan. Dalam banyak riwayat, sahabat yang dijuluki dengan gelar dzunnurain (pemilik dua cahaya) ini, ikut serta menyokong pendanaan perluasan Masjid al-Haram, Makkah dan Masjid Nabawi, Madinah. Saat meletus Perang Tabuk, ia bahkan menginfakkan 1.000 ekor unta dan 70 ekor kuda serta 1.000 dihram. Di antara contoh kedermawanan Ustman adalah Sumur Raumah, yang berlokasi di Madinah. 
Sumur ini dibeli Ustman dari seorang sahabat yang bernama Raumah al-Ghifari seharga 35 ribu dirham, lalu demi kepentingan banyak orang, sumur ini pun lantas diwakafkan untuk umum. Setelah lewat hampir kurang lebih 1.400 tahun, sumur ini ternyata masih bertahan.
Sumur ini terletak di sekitar Wadi al-Aqiq di daerah Azhari, yaitu kurang lebih 3,5 kilometer dari Masjid Nabawi atau sekitar 1 kilometer dari Masjid Qiblatain.
Kondisinya masih seperti sedia kala dan masih mengeluarkan air. Sumur ini sekarang dimanfaatkan Kementerian Pertanian Arab Saudi untuk mengairi perkebunan di sekitarnya. Menurut pakar sejarah Kota Madinah, Abdullah Kabir, sejarah mencatat tanah atau benda lain yang tak bergerak, yang diwakafkan atas nama Ustman cukup banyak. Namun sayangnya, kurang termaksimalkan pelestariannya. Beberapa di antaranya terkena dampak perluasan Masjid al-Haram seperti yang berada di samping Ribath al-Ajam. 

Read More »
17:17 | 0 komentar

Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW


 سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
(QS. 7.Al-Isrā : 1)

Jika peristiwa hijrah dari Mekkah ke Madinah adalah tonggak penting dimulainya ihtiar kemanusiaan menyusun peradaban Islami, peradaban madani.
Maka peristiwa Isra mikraj adalah puncak perjalanan spiritual sangat penting mengungkap hal - hal ghoib dan misteri yang menjadi dasar - dasar keimanan.

Perintah sholat adalah pesan utama dari perjalanan isra mikraj. Tetapi  perjalanan untuk mencapai sidrotul muntaha mempunyai nilai-nilai yang bukan saja bersifat spiritual tetapi juga faktual.

Jika pikiran kita selalu meminta bukti hal - hal ghoib dan misteri dalam agama. Maka perjalanan isra mikraj adalah peristiwa yang menjawab semuanya.

Hadist panjang tentang isra mikraj menjadi bukti faktual bahwa perjalanan isra mikraj adalah perjalanan nyata, bukan fiksi. Atau perjalanan ruhaniah saja. Tetapi perjalanan nyata yang melibatkan panca indra dan kesadaran.

Dalam peristiwa isra' mikraj hampir semuanya bersifat "mustahil" bagi pikiran materialis positivism. Karena semuanya bersifat diluar batas nalar manusia.

Sebuah perjalanan sangat singkat menempuh dua kota yang sangat jauh, Mekkah sampai dengan Madinah (Isra). Dilanjutkan naik ke puncak alam semesta, Sidrotul Muntaha (Mi'raj). Dengan kendaraan Buroq. Buroq dalam keterangan hadist adalah binatang sejenis kuda. Berasal dari surga. Yang kecepatan larinya sangat cepat. Keterangan cepat begitu simbolis. Sedangkan pemandu perjalanan adalah malaikat Jibril. Buroq dan malaikat Jibril bagi Rasulullah bersifat nyata. Bukan ghaib lagi. (QS. An Najm, 53: 13~16)

Perjalanan isra' melintasi tempat - tempat penting. Antara Mekkah sampai Palestina. Dalam hadist diterangkan bahwa malaikat Jibril menandai Yastrib, yang kemudian berubah nama menjadi Madinah, sebagai tempat hijrah nantinya. Kemudian gunung Sinai. Atau Tursina yang berada di wilayah Mesir saat ini. Menandai tempat dimana Nabi Musa mendapat wahyu langsung dari Allah. Karena itu Nabi Musa dikenal sebagai Kalimullah.

Selanjutnya tempat sebelum ke Masjidil Aqsha adalah, Bethlehem (Baitullahmi). Tempat lahirnya Nabi Isa As. Keduanya berada di Yerusalem, Palestina.

Untuk membuktikan bahwa Rasulullah pernah datang ke Masjidil Aqsha, kaum qurais bertanya sangat detail. Sekalipun Rasulullah mampu menjawabnya dengan tepat. Kaum qurais tetap melakukan olok - olok, bahwa cerita Isra' Mi'raj adalah cerita rekayasa.

Peristiwa faktual mikraj Nabi ke langit adalah bukti rasional bahwa tak ada yang misteri dalam agama. Buktinya adalah Nabi telah diperlihatkan begitu nyata. Mulai bertemu para Nabi dan rasul Allah di level langit paling bawah sampai langit ke tujuh. Peristiwa ini sekaligus menjadi dalil bahwa para Nabi dan rasul Allah hidup. Hidup dalam Barzah Allah.

Mikraj Rasulullah juga membuka tabir alam akhirat, surga dan neraka. Alam Malakut, alam para Malaikat di Baitull Makmur (At thur, 4~6). Puncak pengalaman paling eksklusif yang dialami Rasulullah adalah ketika bertemu Allah langsung di Sidrotul Muntaha (An-Najm, 53:41-42). Dalam Al Quran disebut sebagai balasan yang sempurna. Hanya karena ijin Allah, Rasulullah, satu-satunya hamba Allah yang diperkenankan menghadap langsung kepadaNya. Bahkan Malaikat Jibril tak diizinkan mengikuti ke Sidrotul Muntaha. Puncak alam semesta.  (QS. An Najm, 53: 11~18).

Peristiwa Isra' Mikraj adalah gerbang pembuka alam ghaib yang menjadi dasar keimanan dalam Islam. Semua yang disebut ghaib secara kasat mata. Telah dibukakan secara nyata atas ijin Allah. Bertemu para Nabi dan Rasul sebelumnya. Surga - neraka, para malaikat. Alam semesta yang bertingkat mulai terbawah sampai puncak tertinggi . Serta bertemu langsung dengan Allah.

Pengalaman dan kesaksian Rasulullah bertemu langsung Allah, menjadi inspirasi para sufi mengalami hal sama secara ruhani ke Sidrotul Muntaha. Melalui mikraj sholat yang khusuk dan intens. Sebuah proses panjang yang berfokus dan berawal pada pembersihan hati, Tazkiyatun Nafs. Sebagaimana yang juga secara nyata Rasulullah dibersihkan hatinya oleh Malaikat Jibril sebelum melakukan perjalanan Isra Mikraj.

Bagi kaum rasional tetapi beriman. Peristiwa ini menjadi bukti faktual bahwa semua yang ghaib adalah ada dan eksis. Buktinya Rasulullah menyaksikannya . Dengan demikian, pernyataan Tiada Tuhan selain Allah. Yang kemudian diikuti dengan pernyataan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Berimplikasi pada percaya secara penuh semua yang dinyatakan oleh Rasulullah.

Kesaksian yang ghaib oleh Rasulullah adalah referensi mutlak keimanan. Hanya dengan cara tersebut, keimanan kita menjadi kokoh dan kuat. Tanpa referensi tersebut, kita akan terus mencari. Dalam semesta pikiran tanpa arah dan ujung.


Wallahu a'lam bishawab.

Read More »
04:08 | 1 komentar

Nabi Diasuh di Bani Sa'ad



▶ MATERI 33 JILID 1 ◀

*Muhammad Kembali Ke Dusun*

Halimah dan suaminya mengembalikan Muhammad kepada Aminah. Alangkah bahagianya Aminah bertemu lagi dengan putra tunggalnya itu.

"Lihat! Kini engkau tumbuh menjadi anak yang tegap dan sehat!" ujar Aminah.

Aminah memandang Halimah dan suaminya dengan mata berbinar-binar penuh rasa terima kasih, "Kalian telah merawat Muhammad dengan baik, bagaimana aku harus berterimakasih?"

Halimah dan suaminya berpandangan dengan gelisah. Sebenarnya mereka merasa berat berpisah dengan Muhammad. Mereka amat menyayangi anak itu. Selain itu, sejak Muhammad datang, kehidupan mereka dipenuhi keberkahan.

"Kami cuma berharap andaikan saja engkau sudi membiarkan anak ini tetap bersama kami hingga menjadi besar. Sebab, aku khawatir ia terserang penyakit menular yang kudengar kini sedang mewabah di Mekah," pinta Halimah.

Aminah menyadari bahwa yang mereka pinta ada benarnya, tetapi hatinya bimbang karena hampir tak sanggup berpisah lagi dengan putranya. Namun, Abdul Muthalib datang. Bangga sekali ia melihat pertumbuhan cucunya yang begitu bagus di daerah pedalaman.

"Aku ingin Muhammad kembali ke Dusun Bani Sa'ad sampai ia berusia lima tahun," kata Abdul Muthalib, "agar ia di situ belajar berkata-kata dan telinganya terbiasa mendengarkan bahasa Arab yang fasih pula."

Aminah mengerti bahwa ia harus kembali melepas Muhammad demi masa depan putranya sendiri.

"Beri aku waktu beberapa hari bersama putraku, setelah itu bolehlah kalian membawanya kembali," kata Aminah.

Akhirnya, Muhammad pun dibawa kembali ke dusun Bani Sa'ad. Namun, di sana ia mengalami sebuah peristiwa yang sangat mengguncangkan. Peristiwa apakah itu?

Nantikan kelanjutan kisahnya besok..
Insya Allah 😊

🌺Kisah diambil dari buku Muhammad Teladanku Penerbit : Sigma🌺

▶Materi 33 Jilid 1 ◀

✍✍✍✍✍✍✍✍✍✍✍✍✍✍
[8/4 16:21] Taufik Bandung: 🌴🌴🐪🐪🌴🌴🐪🐪🌴🌴

🎍ONE DAY ONE SIROH🎍

🏆 MATERI 34 JILID 1 🏆

Alhamdulillah,  Allah masih  memberi nikmat sehat, iman dan Islam pada kita semua.
Yuk kita lanjutkan kisah tentang  masa kecil Nabi  Muhammad صلى الله عليه وسلم, yang disusui oleh Bunda Halimah di sebuah dusun  di luar kota Mekah. 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد


 🍁 *Pembelahan Dada* 🍁

Peristiwa itu terjadi tidak lama setelah keluarga Halimah kembali ke pedalaman. Saat itu umur Muhammad belum lagi genap tiga tahun.
Hari itu, Muhammad kecil ikut menggembalakan kambing bersama saudara- saudaranya. Tiba tiba salah seorang putra Halimah datang berlari-lari sambil menangis.

"Ada apa?" Tanya Halimah dan suaminya panik.
"Saudaraku yang dari Quraisy itu! Dia diambil oleh seorang laki laki berbaju putih. Dia dibaringkan! Perutnya dibelah sambil dibalik-balikkan!"

Halimah dan Harits segera berlari mencari Muhammad. Mereka menemukan anak itu sedang sendiri. Wajah Muhammad pucat pasi. Halimah dan suaminya memperhatikan wajah Muhammad baik baik.

"Apa yang terjadi kepadamu,Nak?" tanya mereka.
"Aku didatangi oleh seorang laki laki berpakaian putih. Aku dibaringkan lalu perutku dibedah. Mereka mencari sesuatu di dalamnya. Aku tak tahu apa yang mereka cari."

Tanpa bertanya lagi Halimah segera membawa Muhammad pulang. Hatinya dipenuhi kecemasan.

"Aku takut Muhammad didatangi dan digoda oleh jin "kata Halimah kepada suaminya.
"Lebih baik kita membawanya kembali ke Mekah, "jawab Harits
Sebenarnya siapakah seorang laki- laki itu?

Kita lanjutkan besok ya kisahnya...
In syaa Allah 😊


🌹 Kisah diambil dari buku Muhammad Teladanku Penerbit : Sigma 🌹

🏆 🏆

🌻🐝🌻🐝🌻🐝🌻🐝🌻🐝🌻🐝🌻🐝🌻🐝

Read More »
17:51 | 0 komentar

Kelahiran Nabi Muhammad SAW



Muhammad صلى الله عليه وسلم*🌷

Sahabat fillahku, pada hari Senin pagi tanggal 12 Rabiul Awwal pada tahun yang sama dengan penyerbuan Abrahah (tahun gajah), Aminah melahirkan seorang bayi laki-laki. Saat itu bertepatan dengan bulan Agustus tahun 570 Masehi. Sebagian pendapat mengatakan bahwa Aminah melahirkan pada tanggal 20 atau 21 April tahun 571 Masehi.

Aminah mengutus seseorang sambil berkata, "Pergilah kepada Abdul Muthalib dan katakan, 'Sesungguhnya telah lahir bayi untukmu. Oleh karena itu, datang dan lihatlah '."

Abdul Muthalib bergegas datang. Ketika mengambil bayi itu dari pelukan Aminah, dadanya bergemuruh dipenuhi  rasa sayang.

"Kehadiranmu mengingatkan aku kepada ayahmu. Sungguh, di hatiku kini dirimu hadir sebagai pengganti Abdullah."

Dengan penuh rasa syukur, orang tua itu menggendong cucunya berthawaf, mengelilingi Ka'bah. Kali ini tidak kepada berhala, tetapi kepada Allah. Abdul Muthalib berdoa dan bersyukur.

"Aku memberimu nama Muhammad," kata Abdul Muthalib.

Muhammad berarti 'terpuji', sebuah nama yang tidak umum di kalangan masyarakat Arab, tetapi cukup dikenal.

Kemudian, ia memerintahkan orang untuk menyembelih unta dan mengundang makan masyarakat Quraisy.

"Siapa nama putra Abdullah, cucumu itu?" tanya seseorang kepada Abdul Muthalib.

"Muhammad."

"Mengapa tidak engkau beri nama dengan nama nenek moyang kita?"

"Kuinginkan ia menjadi orang yang terpuji, bagi Tuhan di langit dan bagi makhluk-Nya di bumi," jawab Abdul Muthalib.

📝Catatan tambahan 📝

🌹 *Cahaya Aminah*🌹

Ketika Aminah mengandung Nabi Muhammad, ia melihat seberkas sinar keluar dari perutnya dan dengan sinar tersebut ia melihat istana-istana Busra di Syam.
Saat itu di kalangan bangsawan Arab sudah berlaku tradisi yang baik, yakni mereka mencari wanita-wanita desa yang bisa menyusui anak-anaknya.
Anak-anak disusukan di pedalaman agar terhindar dari penyakit memiliki tubuh yang kuat dan agar dapat belajar bahasa Arab yang murni di daerah pedesaan.
Tidak lama kemudian ke Mekkah datanglah serombongan wanita dari kabilah bani sa'ad mencari bayi untuk disusui. Di antara mereka ada seorang ibu bernama Halimah binti Abu Dzu'aib.
"Suamiku,"Panggil Halimah "tahun ini sungguh tahun kering tak ada tersisa sedikit pun hasil panen di kampung halaman kita. Lihat unta tua kita tidak lagi menghasilkan susu sehingga anak-anak menangis pada malam hari karena lapar."
"Semoga kita mendapat bayi seorang bangsawan kaya yang dapat memberi kita upah yang layak untuk menanggulangi kesengsaraan ini," jawab sang suami.
Namun harapan mereka tak terkabul, hampir semua bayi bangsawan saya telah diambil oleh teman-teman serombongan mereka. Hanya ada satu bayi dalam gendongan ibunya yang mereka temui.
"Namanya Muhammad" kata Aminah kepada pasangan tersebut "ia anak yatim tinggal aku dan kakeknya yang merawatnya." Halimah dan suaminya, Al-Harits bin Abdul Uzza saling berpandangan.
Mereka enggan menerima anak yatim karena tidak ada Ayah yang dapat memberi mereka upah yang layak. Pasangan tersebut menggeleng dan pergi mencari bayi lain Aminah memandangi bayi dalam dekapannya dengan sendu. Setiap wanita Bani Saad yang ditawarkan menyusui Muhammad menolaknya karena ia anak yatim.
Sebelum kedatangan para wanita Bani sa'ad, Muhammad disusui tsuwaibah budak perempuan Abu Lahab. Hanya beberapa hari Muhammad disusui oleh Tsuwaibah. Namun sepanjang hidupnya beliau memperlakukan dengan baik sekali.
Ketika Halimah dan Harits kembali ke rombongan, mereka melihat semua kawan mereka telah mendapatkan bayi untuk dibawa pulang dan disusui.
Melihat itu, Halimah berkata kepada suaminya, "Demi Allah, aku tak ingin mereka melihatku pulang tanpa membawa bayi. Demi Allah, aku akan pergi kepada anak yatim itu dan mengambilnya."
"Tidak salah kalau engkau mau melakukannya. Semoga Allah memberi kita keberkahan melalui anak yatim tersebut."
Begitulah, akhirnya Halimah dan suaminya kembali menemui Aminah dan membawa Muhammad ke dusun mereka. Aminah melepas bayi mungilnya itu dengan perasaan lega bercampur sedih. Lega karena akhirnya ada yang mengasuh Muhammad, sedih karena harus berpisah dengannya selama dua tahun.
"Pergilah, Nak. Ibu menunggumu di sini, " bisik Aminah dengan pipi yang hangat dialiri air mata.
Tatkala menggendong Muhammad, Halimah keheranan, "Aku tidak merasa repot membawanya, seakan-akan tidak bertambah beban."
Kemudian, Halimah menyusui Muhammad.
"Lihat, bayi ini menyusu dengan lahap, " kata Halimah kepada suaminya.
Setelah menyusui Muhammad, Halimah menyusui bayinya sendiri. Bayi itu juga menyusu dengan lahap. Setelah itu, Muhammad dan bayi Halimah tertidur dengan lelap.
"Anak kita tidur dengan lelap," bisik Halimah kepada suaminya, "padahal, sebelumnya kita hampir tidak bisa tidur karena ia rewel terus sepanjang malam."
Malam itu, keduanya bertambah heran karena unta tua mereka ternyata kini menghasilkan susu.
"Engkau tahu, Halimah. Sebelum ini unta tua kita tidak menghasilkan susu setetes pun," gumam Harits.
Suami istri itu meminum air susu unta sampai kenyang.
"Malam ini benar-benar malam yang indah, " kata Halimah kepada Harits, "bayi kita tertidur lelap dan kita pun bisa beristirahat dengan perut kenyang."
"Demi Allah, tahukah engkau Halimah, engkau telah mengambil anak yang penuh  berkah."
"Demi Allah, aku pun berharap demikian."

✏ *Kebanggaan Rasulullah*
Lingkungan di Bani Sa'ad benar benar sangat murni. Kelak Rasulullah pun dapat berkata dengan bangga, "Aku adalah keturunan Arab yang paling tulen. Sebab aku anak suku Quraisy yang meyusui di Bani Sa'ad bin Bakr."

▶ MATERI 32 JILID 1 ◀

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Alhamdulillah,  Allah masih  memberi nikmat sehat, iman dan Islam pada kita semua.
Yuk kita lanjutkan kisah tentang  masa kecil Nabi  Muhammad صلى الله عليه وسلم, yang disusui oleh Bunda Halimah di sebuah dusun  di luar kota Mekah. 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد

🌿 *Keberkahan*🌿

Keberkahan yang dibawa Muhammad kecil tidak berhenti sampai disitu. Dalam perjalanan kembali ke dusun Bani Sa'ad, kembali terjadi hal yang mengherankan.

"Suamiku, tidakkah engkau melihat hal yang aneh pada keledai tungganganku?" tanya Halimah.

"Saat kita pergi, keledai ini berjalan pelan sekali," Harits menanggapi, "tetapi, kini ia dapat berjalan cepat seolah tak kenal lelah. Padahal, beban yang dibawanya cukup berat."

Keledai itu berjalan cukup cepat sehingga bisa menyusul dan melewati rombongan wanita Bani Sa'ad lainnya yang telah berjalan lebih dulu.

"Halimah putri Abu Dhu'aibi!" panggil para wanita itu keheranan, "tunggulah kami! Bukankah ini keledai yang engkau tunggangi saat kita pergi?"

"Demi Allah, begitulah," balas Halimah, "ini memang keledaiku yang dulu."

"Demi Allah, keledaimu itu kini bertambah perkasa!"

Ketika tiba di rumah, Halimah dan Harits tambah terkejut.

"Sepetak tanah kita!" bisik Halimah tak percaya.

"Sepetak tanah kita ini jadi begitu hijau dan subur! Padahal, saat kita berangkat, tak ada sepetak tanah pun yang lebih gersang dari ini!"

"Domba-domba juga!" seru Harits, "domba domba kita jadi gemuk dan susunya penuh. Kini kita dapat memerah dan meminum susu mereka setiap hari."

Begitulah keberkahan yang mereka terima  selama mengasuh Muhammad. Namun, dua tahun pun berlalu, kini tiba saatnya mengembalikan Muhammad kepada ibunya.

Akankah Muhammad kecil benar-benar kembali ke pelukan ibunya setelah dua tahun berpisah?

Nantikan kelanjutan kisahnya besok...
In syaa Allah😊



🌷Kisah diambil dari buku🌷
📙Muhammad Teladanku  Penerbit : Sigma◀
✍✍✍✍✍✍✍✍✍✍✍✍

Read More »
12:59 | 0 komentar

Bukti Al Qur'an dan Kebenaran

"Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.” (Q.S. Ar-Rahman:19-20).
1400 tahun yang lalu ini dikabarkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada kaum Quraisy,apa yg terjadi?Nabi dianggap gila..sihir. Inilah salah satu bukti kebenaran Islam,Al quran dan Nabi Muhammad SAW.
Inilah foto tersebut, yang memperlihatkan aliran dua lautan yang tidak pernah bercampur, seolah-olah ada sekat atau dinding yang memisahkannya. Subhanallah, Maha Besar Allah Yang Maha Agung.
Ternyata air laut yang tidak bercampur itu benar-benar ada. Saya sudah sering membaca ayat tersebut, tapi masih belum tahu di mana gerangan air laut yang tidak pernah bercampur itu.
Ayat lain yang menceritakan fenomena yang sama terdapat pada Surat Al-Furqan ayat 53 yang berbunyi: “Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S. Al-Furqaan:53).
 Dua lautan yang tidak bercampur itu terletak di Selat Gibraltar, selat yang memisahkan benua Afrika dan Eropa, tepatnya antara negera Maroko dan Spanyol

Read More »
17:11 | 0 komentar

Kerinduan pada Nabawi

Begitu banyak alasan yg dikemukakan saat ajakan beribadah diutarakan. Sebagai manusia yg cenderung suka berhitung, hitungan matematika,itu masuk akal. Tapi jangan lupa, matematika Allah itu beda dgn matematika kita Kalkulator Allah nggak sama dgn kalkulator kita Dan satu yg pasti, Allah nggak akan ingkar janji. ALLAH AKAN MENGGANTI SEMUA BIAYA YG DIKORBANKAN UNTUK BERHAJI ATAU BERUMROH.
Percayalah. akupun, dalam kondisi yg sederhana. Alhamdulillah Saya dan Istri telah daftar Haji, InsyaaAlloh 30 an tahun lagi berangkat...Alhamdulillah sebelum haji  diberi kesempatan untuk ibadah umroh.
Tapi ketika pesawat mendarat di Madinah, aku diserbu oleh sebuah rasa yg tak biasa. BAHAGIA !! Dan menjelang jam 2 dini hari, saat pertama melangkahkan kaki ke Nabawi, Saat teman teman masih saling bicara "dihafal ya pintu keluar. Pintu nomor 25.
Tinggal nyebrang jalan, langsung ketemu hotel kita" Aku tak lagi konsentrasi mengikuti percakapan. Dada, hati, otak, semuaaaanya telah dikuasai oleh rasa haru biru dalam debit yg tak terhitung.


Masyaallah. Subhanallah. damai menyusup ke seluruh permukaan diri saat pertama jejak menapak di dinginnya ubin Nabawi. ALLAH. siapa lah aku ini, kalau bukan karena kuasaMu tak kan mungkin diri yg kerdil ini bisa menjadi bagian tamuMu.
Nabawi sedemikian indah.... derai angin sepoi-poi Nopember yg menawarkan suhu 28 derajat tak mampu mengalahkan semangat ribuan jamaah untuk mereguk kenikmatan shubuh berjamaah.
Aku terpukau. Terpana. Kehilangan segala prosa. Payung payung raksasa yg menawan di pelataran. Karpetnya yg empuk. Dispenser berisi zam zam yg selalu tersedia tertuliskan Cool dan juga Not Cool. Pilar pilarnya yg megah Kubahnya yg mewah, yang bisa terbuka (seperti pintu geser) sehingga di dalam mesjid kita bisa menatap indahnya langit di belahan bumi Allah yg terberkati.
Langit Medinah !! Sholat di raudhoh. Di dekat makam Sang Panutan. Makam Rasulullah, iya RASULULLAH. yg Allah pilih namanya bergandengan dengan nama Allah dalam kalimat sumpah suci syahadat. Sholat disini memang perlu kesabaran, tapi semua berbuah manis. Ada yg tak mampu teruraikan oleh kata kata. Kenikmatan yg menjalar ke seluruh titik nadir. Damai yg mengalir ke seluruh inci pembuluh darah, rasa tentram yg meresap ke setiap milli pori pori raga.
Diri larut dalam pemahaman akan perjuangam rasulullah dalam dimensi beribu tahun yg silam. Di sini. Iya disini, nabi berdakwah, mengajak pada kebaikan. Menyembah Allah yang Maha Tunggal. Aku sampai bergumam di hati. "Ya Allah... ternyata sedemikian dahsyat pengalaman spritual yg kudapatkan disini. Sebuah rasa damai, tentram, bahagia yg tak bisa diwakili oleh seluruh bahasa. Rasanya.... angka 20 jutaan untuk kesini tidaklah ada apa apanya dibanding kenikmatan bathin yg aku reguk disini." Sempat terbersit sesal, andai kutau senikmat ini berada dalam pelukan tanah suci, harusnya aku nggak perlu mendahulukan punya rumah, punya kendaraan. Berangkat umrohlah yg semestinya dipioritaskan. Di titik itu aku mengerti, mengapa semua orang yg pernah berumroh, ingin kembali lagi. (Bahkan saudara ipar terbaikku, yg berangkat 3 minggu lebih awal dariku. Rela berbagi kebahagiaan ini dengan meng UMROH kan Aku,Istriku dan Ibu Bapak Mertua).
Memelukku dengan mata yg basah saat aku berangkat, dia berbisik "doakan kami ya, biar bisa umroh lagi bersama istri" pintanya. Ingat yaa, dia baru belasan hari yg lalu kembali dari tanah suci, tapi dia udah rindu, sekarang aku mengerti) Dan kenikmatan beribadah disana juga yg menjadi alasan, sehingga hampir seluruh jamaah memilih berlama lama dalam mesjid.
Larut dalam sujud sujud yg panjang dan dalam. Sholat wajib, sholat dhuha, sholat taubat, sholat hajat, sholat tahiyatul mesjid, sholat tahajjud, tilawah alquran, sholawatan, berdzikir.... Dan air mata haru mengucur deras saat sujud terakhir di Nabawi, karena saatnya perjalanan berlanjut ke Mekkah. Kulepas Nabawi dengan linangan airmata. Aku masih disana, tapi aku sudah dikuasai rindu tiada tara.
 Kala itu aku belum tau, di Mekkah, pengalaman bathin ternyata jauh lebih luar biasa. (Insyaallah lain waktu ingin menulis pengalaman di Mekkah juga). Saudariku, itulah alasan, kenapa semua yg telah berumroh, bersemangat mengajak orang lain untuk berumroh juga. Mari minta pada Allah. Mari memohon pada Allah. Kalo dana sudah ada, berangkatlah. Prioritaskanlah untuk ibadah. Insyaallah kebutuhan yg lain nanti akan dicukupkan oleh Allah. mumpung Allah masih memberi kita umur dan kesehatan.
Bersegeralah. Dan jika dirimu berangkat, tolong sebut namaku dalam doamu. Semoga Allah ijinkan diri ini kembali menjadi tamuNya. Semoga bisa mengulang mereguk kenikmatan yg luar biasa selama ibadah disana. Aamiin Berangkatlah, jangan merasa sayang dgn uang yg dikeluarkan. ALLAH akan membalas semuanya dgn balasan yg jauh lebih baik. *menulis di dalam tangis,  8 Desember 2017 Demi Allah aku udah menangis menahan rindu.

Read More »
19:15 | 0 komentar

Jabal Rahmah,2018


Jabal Rahmah berlokasi di pusat Arafah. Dinamakan Arafah karena di tempat itu manusia saling mengenal satu sama lain. Ada juga yang meriwatkan bahwa Jibril as datang kepada nabi Ibrahim as mengenalkan kepadanya tempat tempat ibadah. lalu Jibril bekata kepadanya, “Apakah kamu telah mengenalnya? (هل عرفت ؟ )”. Ibrahim as menjawab, “Ya aku telah mengenalnya”. 
Ada lagi riwayat yang mengatakan bahwa nabi Adam as dan siti Hawa dikenalkan atau dipertemukan kembali di Arafah di Jabal Rahmah setelah penurunan mereka dari surga dan berpisah selama 200 tahun. peristiwa yang mengharukan berupa pertemuan nabi Adam dan siti Hawa di Arafah ini dijadikan tempat pertemuan umat manusia setiap tahun. Di saat Rasulallah saw berwukuf di Arafah beliau berdiam di bawah kaki Jabal Rahmah, beliau bersabda “Aku berwukuf di sini, dan Arafah seluruhnya tempat berwukuf kecuali wadi ‘Uranah”.
Jabal Rahma:29 November 2017

Read More »
12:44 | 0 komentar

Menelusuri Gua Hira

Latar Belakang Jabal Nur

Alhamdulillah bisa menampakan kaki ke sebuah tempat dimana agama Islam Diawali. Gunung Jabal Nur tempat Gua Hira berada. Disebelah utara Masjidil Haram kurang lebih 6 km, terdapat sebuah gunung yang dikenal dengan nama Jabal Nur. Tinggi puncak Jabal Nur kira-kira 200 meter, di sekelilingnya terdapat sejumlah gunung, batu bukit dan jurang. Sekitar 5 meter dari puncak gunung, terdapat sebuah lubang kecil. Itulah yang disebut Gua Hira, di mana Nabi Muhammad Saw mendapat wahyu pertamanya. 
Letak Gua Hira di belakang dua batu raksasa yang sangat dalam dan sempit. Panjang gua tersebut sekitar 3 meter dengan lebar sekitar 1.5 meter, dan ketinggian sekitar 2 meter setinggi orang berdiri. Dengan luas dimensi seperti itu, gua ini hanya cukup digunakan untuk shalat dua orang. 
Di bagian kanan gua terdapat teras dari batu yang hanya cukup digunakan untuk shalat dalam keadaan duduk dan terdapat lubang kecil yang dapat dipergunakan untuk memandang kawasan bukit dan gunung arah Makkah. 
Untuk menuju puncak gunung, seseorang rata-rata memerlukan waktu selama 1 jam bahkan lebih. Medannya cukup sulit karena tidak ada tangga. Para peziarah harus mendaki melewati batu-batu terjal. Jalan bertangga hanya ditemukan setelah tiga perempat perjalanan. Namun menjelang puncak gunung, medannya sedikit ringan, peziarah bisa mendaki dengan santai.

Gua Hira


Read More »
11:36 | 0 komentar

Perjalanan Ke Baitulloh,November 2017


Ibadah umrah memiliki keistimewaan yang tak biasa, sebagaimana sabda Rasulullah –shallallahu ’alaihi wasallam-, mudah-mudahan dua hadits tersebut mewakili sekian banyak dalil-dalil yang menunjukkan keutamaan ibadah yang satu ini:
Hadits pertama: Sabda Rasulullah -shallallahu ’alaihi wasallam-, “Haji dan umrah adalah jihadnya orang lanjut usia, anak kecil, dan wanita.” [HR. Nasai].
Hadits kedua: Sabda Rasulullah –shallallahu ’alaihi wasallam-, “Antara satu umrah dengan umrah berikutnya adalah penghapus dosa [masa] di antara keduanya, dan tidak ada balasan bagi haji yang mabrur melainkan surga.” [HR. Bukhari &Muslim].
Alhamdulillah pada tahun ini dibrikesempatan oleh Allah SWT untuk menunaikan ibadah Umroh bersama istri tercinta, Eyang Uti dan Eyang Kakung, Bertepatan dengan tanggal 26 November s.d. 5 Desember 2017.
Perjalan spriritual ini jika tidak didasari dengan keimanan pasti akan terasa hampa. Ini adalah sebuah panggilan dari Allah swt.
Perjalanan menggunakan Saudia Airline begitu terasa mendebarkan, 10 jam berada di udara. Tujuan adalah Bandara di Madinah.
Dengan bimbingan mutoif kami dibimbing dari keluar bandara, selama perjalanan diperkenalkan dengan wisata sejarah, tempat-tempat sejarah berkaitan dengan perjuangan Rasululloh SAW untuk menegakan kalimat Tauhid.
Begitu melihat menara sebuah masjid yang begitu saya kenal saya begitu takjub campur haru... Masyaalloh itu menara Masjid Nabawi... Allohumma sholi'ala Muhammad wa'ala'ali Muhammad.
Bermanja-manja dengan Alloh swt itu sebenarnya sebuah perjalanan Umroh ini.
Linangan air mata haru menyeruak menjadi tangisan yang tidak dapat terbendung, begitu bisa melangkahkan kaki kedalam Masjid Nabawi... kesejukan, nuansa ibadah, sangat terasa dimasjid ini. Kesibukan orang yang sedang berzikir... Mengagungkan Alloh swt dan menyampaikan Sholawat untuk Nabi Muhammad SAW tercinta.
Begitu diberikeseatan untuk melaksanakan Sholat di Roudhoh... Masya Alloh.. Ya Alloh janjiMu Pasti Benar....
Makam Nabi Mu yang demikian Agung yang menjadi Kekasih-Mu.............................................
Setelah Sholat Sunah dua rakaat..... semua unek-unek doa ku Panjatkan KepadaMu ya Alloh......
Doa untuk Saudara.....Tetangga... Teman.... Anak .... Istri dsb kumohonkan kepada-Mu Ya Alloh SWT....Haqul yakin Engkau Maha Mendengar, Maha Mengabulkan Doa tersebut.

Read More »
11:39 | 0 komentar

Desaign Masjid Dan Fungsi

Layaknya sebagai sebuah tempat ibadah hal yang dipersyaratkan adalah kenyamanan. Satu kata kunci itu yaitu kenyamanan menjadi hal yang harus ada. Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara merupakan salah satu tempat ibadah yang telah meletakan dasar-dasar tersebut. Dasar kenyamanan ini tentu harus ditunjang dari segi design yang memudahkan jamaah untuk semua akses. Kamar Mandi dan WC sebagai sebuah sarana pendukung yang wajib ada dari sebuah sarana ibadah, Masjid.


Tidak kalah pentingya adalah ruangan yang bersih, nyaman dan tentunya indah (baca: menarik). Modal itu bisa dikatakan sebagai sebuah kenyamanan. Tentunya adalah parkir yang menunjang.



Selain itu juga untuk jamaah asli lingkungan.masjid dapat dugnakan sebagai berbagai aktifitas sosial dan kemasyarakatan. Tentunya selain untuk jual-beli. Salah satu pendukung lainnya adalah tentang keramahan Takmir (pengelola Masjid). Jika ada tamu datang mampu melayani dengan ramah jika menanyakan KM/WC, sarana ibadah (sarung/mukena) dll. Berikut Gambar perencanaan dari masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara.



Read More »
03:40 | 0 komentar

Sirah Nabawiyah (Sejarah Hidup Rasulullah saw)

cropped-p1010783.jpgDi Kota Syam (Syiria) ada seorang pendeta Yahudi yang sangat membenci Rasulullah Muhammad Saw. Pendeta tersebut mempunyai sebuah kegiatan kerohanian yang diadakan tiap Sabtu, dan dihadiri puluhan ribu jema’at.
Suatu saat ketika ia sedang mempersiapkan materi yang akan diajarkan, ia menemukan sejarah keagungan Nabi Muhammad saw dalam kitab Taurat yang dibacanya. Semula terdapat delapan tempat dimana sejarah Rasulullah tertulis dalam kitab agungnya orang Yahudi itu. Karena rasa bencinya kepada Rasulullah, ia merobek delapan tempat tersebut.
Pada hari Sabtu berikutnya (pekan kedua) di kesempatan yang sama ia menyiapkan materi kitab Taurat yang akan diajarkan kepada murid-muridnya. Ia kembali menemukan keterangan dalam kitab tersebut yang menjelaskan tentang sejarah Rasulullah saw pada 16 tempat dan semuanya itu juga ia robek. Kemudian pada pekan hari Sabtu berikutnya (pekan ketiga) saat ia mempersiapkan materi untuk pengajian kitab Tauratnya, kembali ia menemukan 24 tempat dalam kitab tersebut yang menceritakan tentang Rasulullah saw dan semuanya pun juga dirobeknya.
Namun apa yang telah ia lakukan membuat ia menjadi penasaran ingin bertemu dengan Rasulullah Muhammad saw. Ia berpikir jarak antara daerahnya (Syam) dan Kota Madinah adalah perjalanan selama 30 hari (menggunakan onta), sehingga perjalanan itu harus meninggalkan kegiatan rutinnya paling tidak 8 kali pertemuan.
Beberapa orang murid mencoba untuk mengingatkan sang pendeta Yahudi tersebut, “Sebaiknya tuan pendeta tidak menemui Muhammad, karena siapapun orang yang bertemu dengannya pasti akan tunduk padanya, kalau nanti anda tunduk kepada Muhammad, lalu siapa yang nantinya memimpin kami ?”.Mendengar nasehat tersebut pendetapun mengurungkan niatnya pergi ke Madinah untuk menemui Muhammad .
Namun karena penasaran, sepekan kemudian sang pendeta kembali mengutarakan keinginannya yang tertunda tersebut.  Tapi kembali murid-muridnya melarangnya. Hal tersebut terulang tiga kali. Hingga akhirnya pendetapun berkata: ”  Atas kebesaran Nabi Musa dan Kitab Taurat saya harap kalian memperkenankan saya bertemu Muhammad”. Dan para muridpun akhirnya merelakan pendetanya pergi menemui Nabi besar Muhammad saw.
Singkat cerita, berangkatlah sang pendeta ke Madinah. 30 hari kemudian, setiba di pintu gerbang kota, sang pendeta berjumpa seorang lelaki tampan, berkulit putih, berbadan tinggi dan berbaju serba putih. Ia mengira bahwa lelaki itu adalah Muhammad, iapun menyapanya : “Assalamu Alaika yaa Muhammad”.
Namun tanpa disangka, lelaki itu tiba-tiba menangis tersedu-sedu begitu mendengar sapaan tersebut. Si pendeta terheran-heran. Tak lama laki-laki itupun mendekati si pendeta dan menanyakan asal sang pendeta “Anda dari mana ?”. “Saya dari tempat yang jauh, dari Syam dan saya ingin bertemu Muhammad”jawab si pendeta.
Mendengar jawaban tersebut, laki-laki itupun segera mengantarkannya ke Masjid Nabawi.
Di depan pintu masjid pendeta yang sudah tak sabar lagi bertemu Rasulullah segera mengucapkan salam “Assalamu’alaikum, Assalamu Alaika Yaa Muhammad”.
Seketika semua sahabat yang berada di dalamnya menangis tersedu-sedu. Ia semakin kaget karena setiap ia mengucapkan salam kepada penduduk Madinah mereka langsung menangis. Ketika suasana masjid makin penuh disesaki isak suara tangis, sahabat Ali bin Abi Thalib segera menemuinya dan terjadilah percakapan :
Ali ra : “ Anda dari mana ?”
Pendeta : “ Saya dari tempat yang jauh, kota Syam”
Ali ra: “Ada keperluan apa anda kemari ?”
Pendeta : “Saya ingin bertemu Muhammad”,
Ali ra : “ Terlambat…! Seminggu yang lalu beliau wafat,”
Pendeta (sambil penuh penyesalan) : “Kalau begitu saya ingin melihat jubahnya!”
Ali ra lalu menyuruh sahabat Bilal bin Rabah untuk mengambilkan jubah Nabi di rumahnya. Sesampai di depan pintu rumah, Bilal berkata “ Wahai Sayyidah Fatimah, ada tamu ingin melihat jubah Rasulullah, saya disuruh sahabat Ali untuk mengambilkan jubah itu untuknya,”.
Sayyidah Fatimah segera membuka lemari tempat jubah disimpan. Putri bungsu Rasulullah itu langsung menangis teringat bau harum tubuh ayahandanya tercinta. Diciuminya jubah tersebut, sebelum beliau berikan kepada Bilal. Bilalpun kemudian menangis sambil membawanya ke masjid Nabawi. Dan begitu Bilal sampai di masjid, semua sahabat yang berada di dalam masjid menangis teringat Rasulullah saw.
Setelah Bilal menyerahkan jubah kepada Ali, Ali segera memberikan jubah tersebut kepada sang pendeta, yang segera menciuminya seraya berkata “ Ternyata benar, dialah utusan Allah, beginilah bau harum Nabi Muhammad saw seperti yang disampaikan dalam kitab Taurat !“.
Dan ketika jubah itu ia hamparkan, ia melihat dua belas tambalan pada jubah tersebut, sesuai dengan apa yang diterangkan dalam kitab Taurat. Sang pendetapun makin yakin bahwa orang yang baru seminggu meninggal dan ditangisi semua orang itu adalah Muhammad yang tertulis dalam kitabnya, dan ia adalah utusan Allah.
syahadat“ Wahai sahabat Ali, bagaimana cara saya bisa masuk Islam ?”, tanya pendeta.
Katakanlah, Asyhadu an Laa Ilaaha Illa Allah, Wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah” jawab Ali, lembut.
Sang pendeta segera mengikuti ucapan Ali ra. Maka resmilah ia menjadi seorang Muslim.
“ Wahai sahabat Ali! Aku ingin berziarah makam Rasulullah Muhammad Saw”, pintanya tak lama setelah ia bersyahadat.
Ali lalu menyuruh sahabat Bilal untuk mengantarkannya ke makam Rasul. Sesampainya di sana sang bekas pendeta mengangkat kedua tangannya seraya berkata :
 Yaa Allah.. !  Aku ingin bertemu Nabi Muhammad, namun kini aku sudah terlambat, dan aku ingin agar engkau mempertemukanku dengannya di alam barzakh, mohon matikanlah aku !”.
masjid nabawiTiba-tiba iapun terjatuh dan langsung meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Para sahabat kemudian memakamkan mantan pendeta tersebut di pemakaman  Baqi, tak jauh dari masjid Nabawi dimana Nabi yang tadinya dibencinya itu dimakamkan.
Begitulah Allah berkehendak memberikan hidayah kepada seorang pendeta Yahudi yang sangat membenci Rasulullah saw, melalui ayat-ayat yang tertulis dalam kitab Taurat.
Wallahu’alam bish shawwab.
Jakarta, 13 Maret 2017.
Dikutip dari :
Madinah yang merupakan pusat bermulanya Islam sebelum berkembang ke seluruh dunia di mana ia menjadi tempat kelahiran pertama masyarakat Islam. Oleh itu menjadi suatu kemestian untuk mendapat gambaran yang tepat mengenai kedudukan bandar ini dari segi peradaban, kemasyarakatan, ekonomi, hubungan antara qabilah, markaz Yahudi, ketenteraan dan juga suasana yang menjadikan bandar ini mewah dan kaya serta menjadi pusat pertemuan berbilang agama, pelbagai kebudayaan dan masyarakat. Ia berlainan dengan Mekah yang hanya mempunyai satu tabiat, satu agama yang dikongsi bersama oleh semua warganya. Madinah lebih banyak terdapat air, iklimnya lebih sejuk daripada Mekah dan tabiat penduduknya lembah-lembut sesuai dengan kehidupan kaum tani. Sebagai ringkasannya maka keadaan dan suasana Yathrib sebelum kedatangan Islam adalah sebagaimana fakta dan gambaran yang akan disebut dibawah.
a. Kaum Yahudi di Madinah
Menurut ahli sejarah kedatangan kaum Yahudi ke Yathrib selepas peperangan antara bangsa antara Yahudi dengan Rome pada tahun 70 masihi yang berkesudahan dengan musnahnya Palestin dan runtuhnya Haikal atau biara utama Yahudi di Baitul Maqdis. Kaum Yahudi ini terdiri dari tiga qabilah yang terbesar iaitu qabilah Qainuqa’, al-Nadhir dan Quraidzah di mana hubungan antar ketiga qabilah tersebut amat tegang di mana berlaku peperangan sesama mereka yang berterusan sejak peperangan Bu’ath. Mereka tinggal di pelbagai perkampungan khas seperti bani Qainuqa’ tinggal dalam bandar Madinah, bani Nadhor tinggal di sebelah atas luar Madinah di mana kawasan mereka subur dengan tanaman kurma dan tanaman bermusim manakala bani Quraidzah pula tinggal di kawasan yang bernama Mahzur yang jaraknya beberapa batu di selatan Madinah.
Kaum Yahudi memiliki beberapa kubu dan benteng serta kampung di mana mereka hidup berjauhan dan berkelompok yang menyebabkan mereka tidak mampu mendirikan pemerintahan Yahudi sebaliknya terpaksa membayar upeti setiap tahun kepada ketua-ketua beberapa qabilan Arab sebagai perlindungan dari gangguan Arab badwi.
Bangsa Yaudi menyifatkan diri mereka sebagai suatu bangsa yang ahli dalam pengetahuan agama dan syariat di mana mereka mempunyai pusat pengajian sendiri untuk perkara tersebut disamping belajar mengenai sejarah lampau mereka khususnya berkenaan rasul dan nabi mereka. Mereka juga mempunyai tempat khusus untuk beribadat di mana disitulah mereka berkumpul untuk berbincang mengenai agama dan keduniaan mereka. Mereka juga mempunyai perundangan dan tatacara hidup tersendiri yang sebahagiannya diambil daripada kitab suci mereka dan sebahagian lagi dibuat oleh pendeta mereka. Disamping itu mereka mempunyai hari-hari perayaan tertentu, hari-hari tertentu untuk mereka berpuasa seperti hari ‘Asyura.
Hasil pendapatan mereka yang terbesar ialah mengambil keuntungan dari penggadaian barang dan riba. Keadaan Madinah sebagai kawasan pertanian memberi peluang kepada mereka bergiat dengan riba terutama dari petani yang mendapatkan uang sementara menunggu musim menuai. Penggadaian bukan sahaja melibatkan uang atau harta benda sahaja tetapi wanita dan anak-anak juga dijadikan barang gadaian. Kaum Yahudi dapat menguasai ekonomi Madinah dan seterusnya dengan ekonomi yang kukuh mereka menguasai pasar-pasar tanpa bertimbang rasa, mereka menyorok barangan keperluan untuk mengaut keuntungan yang berlipat ganda sehingga mereka dibenci oleh masyarakat Arab setempat. Demi kepentingan ekonomi mereka membuat hubungan dengan kaum Aus dan Khazraj dengan mengadu-domba keduanya yang menyebabkan bangsa Arab lemah dan kaum Yahudi terus menguasai ekonomi Madinah.
Bahasa yang mereka guna ialah bahasa Arab tetapi turut bercampur dengan bahasa Ibrani. Manakala dari segi penyebaran agama Yahudi tidaklah meluas memandangkan mereka tidak berminat mengajak bangsa lain untuk menganut agama Yahudi.
b. Suku Kaum Aus dan Khazraj
Suku kaum Aus dan Khazraj merupakan penduduk berbangsa Arab yang mendiami Yathrib lanjutan daripada qabilah-qabilah al-Azdiyah di Yaman yang berpindah berulangkali dalam masa berbeza disebabkan banyak faktor antaranya kekacauan disebabkan serangan kajum Habshi di Yaman dan juga kemerosotan pengairan apabila robohnya bendungan Ma’rib. Mereka merupakan suku kaum yang mendiami Yathrib kemudian daripada kaum Yahudi.
Kaum Aus tinggal di selatan dan timur iaitu bahagian tinggi Yathrib yang merupakan kawasan pertanian yang subur manakala Kaum Khazraj berada di tengah sebelah utara iaitu bahagian rendah bandar yang merupakan kawasan kurang subur. Jumlah kaum Aus dan Khazraj menurut perkiraan berdasarkan keikut sertaan mereka dalam peperangan setelah hijrah iaitu semasa penaklukan Mekah ialah 4000 orang.
Kedudukan kaum Arab di Yathrib di masa hijrah adalah kuat di mana merekalah yang menguasai urusan di situ. Berpecahan kaum yahudi menyebabkan mereka tidak mampu menyaingi bangsa Arab terutama ada daripada mereka yang bersama kaum Aus dan ada pula bersama kaum Khazraj. Namun begitu bangsa Arab suku Aus dan Khazraj turut berperang sesama mereka di mana perang Samir merupakan peperangan pertama dan diakhiri dengan peperangan Bu’ath lima tahun sebelum hijrah. Kaum Yahudilah yang memanas-manasi mereka dan mendesak agar mereka berpecah dengan menanamkan semangat dengki. Akhirnya mereka tidak mampu menghadapi kaum Yahudi. Namun demikian, akal bulus mereka disadari oleh bangsa Arab di mana mereka men-cap kaum Yahudi sebagai ‘musang’.
c. Kedudukan Geografi Bandar Madinah
Yathrib atau Madinah ketika hijrahnya nabi s.a.w ke sana terbahagi kepada beberapa buah daerah yang didiami oleh beberapa keturunan Arab dan Yahudi di mana setiap daerah terbahagi pula kepada dua bahagian iaitu bahagain pertama meliputi tanah pertanian manakala bahagian kedua meliputi benteng dan kubu pertahanan. Benteng pertahanan ini adalah penting bagi melindungi kaum wanita, anak-anak dan orang-orang lemah ketika diserang oleh musuh. Ia juga dijadikan tempat untuk menyimpan hasil panen dan buahan kerana letak Bandar Yathrib yang terbuka dengan tempat terbuka untuk musuh menyerang dan merampas harta benda dan ia juga dijadikan tempat menyimpan harta dan senjata. Disamping mempunyai biara untuk beribadat dan tempat pengajian di dalamnya, di dalam benteng ini dipenuhi dengan peralatan rumah yang mahal serta pelbagai kitab agama. Di situ juga kaum Yahudi berkumpul dan berbincang juga bersumpah dengan kitab suci mereka ketika melakukan sesuatu perjanjian atau muafakat.
Madinah dikelilingi banyak gunung-gunung batu Harrah yang menjadi benteng pertahanan dari serangan musuh. Di sebelah utaranya terbuka untuk lintasan sementara lintasan lainnya dibentengi oleh pohon-pohon kurma yang tebal yang tidak mampu dilalui oleh tentera kecuali mengikut jalan-jalan sempit yang tidak sesuai bagi perjalanan tentera dan mengatur barisan. Bahagian-bahagian yang berhutan tebal dengan pohon-pohoin kurma itu merupakan tempat kawalan tentera yang tersembunyi dan cukup untuk mengkucar-kacirkan barisan tentera musuh dan menghalangnya daripada membuat serangan.
Alam asli telah menjadikan Yathrib tanah lahar muntahan gunung berapi yang menjadikan buminya amat subur selain banyak jeram dan kawasan lembah yang dapat dapat menampung air bagi perairan kurma dan tanaman lain. Wadi menjadi tempat rekreasi Madinah di mana dari wadi ini mengalir air ke ladang. Selain itu tanah Yathrib begitu sesuai untuk digali sumur dalam ladang-ladang.
d. Keadaan Agama dan Kedudukan Kemasyarakatan di Madinah
Umumnya semua bangsa Arab mengikut pegangan agama kaum Quraisy dan penduduk Mekah memandang mereka sebagai penjaga Ka’abah dan juga sebagai pemimpin dalam agama dan sebagai panutan dalam aqidah dan peribadatan. Mereka menyembah berhala Cuma hubungan mereka dengan sebahagian berhala seperti Manat lebih daripada yang lain terutama kaum Aus dan Khazraj.
Sebuah hadith riwayat Imam Ahmad dari ‘Urwah daripada Sayyidatina ‘Aisyah yang menafsirkan ayat 158 surah al-Baqarah yang bermaksud :
Sesungguhnya berjalan antara Sofa dan Marwah itu sebahagian tanda-tanda taat kepada Allah maka sesiapa yang mengerjakan haji di Baitullah atau mengerjakan umrah, maka tiada kesalahan ia berulang alik di dua tempat itu….
Kata Sayyidatina ‘Aisyah mengenai ayat ini, maksudnya : Kaum Ansar sebelum memeluk Islam memuja berhala Manat yang rupanya garang di mana mereka sembah di Musyallal. Ada di antara mereka memuja berhala itu keberatan untuk bersa’ie di Sofa dan Marwah. Mereka bertanya kepada Rasulullah s.a.w : “Wahai Rasulullah! Kami keberatan untuk bersa’ie di Sofa dan Marwah pada masa jahiliyah dahulu”. Lalu Allah menurunkan ayat di atas.
Penduduk Madinah tidak menyembah patung berhala secara meluas tidak seperti di Mekah dan sebenarnya orang-orang Madinah menyembah berhala hanya mengikut orang-orang Mekah.
Warga Madinah mempunyai dua hari perayaan iaitu hari Nauruz dan Maharjan yang mereka ambil daripada orang-orang Parsi untuk bersuka-suka tetapi setelah kedatangan Islam ia dihapuskan.
e. Keadaan Ekonomi dan Peradaban di Madinah
Bandar Yathrib atau Madinah merupakan bumi pertanian di mana kebanyakan penduduknya bergantung kepada hasil bertani dan berladang di mana hasil utamanya ialah kurma dan anggur. Pohon kurma banyak kegunaannya iaitu buahnya dijadikan makanan, batangnya dijadikan bahan bangunan, perusahaan kayu, bahan bakar dan makanan binatang ternak. Jenis bijian yang merupakan makanan asas penduduk Yathrib ialah barli kemudian gandum dan juga banyak ditanam sayuran.
Bagi mereka ada cara bertani, sewa tanah, Muzabanah iaitu menjual kurma yang masih ditandannya dengan kurma yang sudah ditimbang dengan taksiran, Muhaqalah iaitu menjual hasil tanaman barli atau gandum yang masih ditangkainya dalam ladang juga dengan taksiran, Mukhabarah dan Muzara’ah di mana kedua-duanya hampir sama iaitu pembahagian hasil tanaman antara pengusaha dengan tuan tanah sepertiga atau seperempat tetapi benih diberikan oleh tuan tanah kepada pengusaha tanaman itu. Mukhabarah ialah benih yang disediakan sendiri oleh pengusaha manakala Mu’awanah pula ialah penjualan hasil buahan selama 2 atau 3 tahun atau pun lebih. Mata uang di Mekah dan Madinah adalah sama. Dalam urusan jual beli banyak digunakan taksiran/sukatan di Madinah berbanding di Mekah kerana penduduk Madinah banyak bergantung kepada bijian dan buahan.
Kesuburan tanah Madinah masih tidak mampu menampung keperluan makanan penduduknya yang menyebabkan mereka mengimport tepung putih, minyak sapi dan madu dari Syam. Kegiatan perniagaan memang ada walau pun tidak sehebat penduduk Mekah di mana warga lembah tanpa tanaman dan tanpa air yang mencukupi maka mereka bergantung hidup kepada aktivititas perdagangan pada musim panas dan musim sejuk.
Ada perusahaan pertukangan di Madinah yang kebanyakannya diusahakan oleh kaum Yahudi di mana pada umumnya Yahudi bani Qainuqa’ adalah tukang emas. Ada beberapa pasar di Madinah milik bani Qainuqa’ menjadi pusat jual beli barang perhiasan dari emas begitu juga pasar jualan bijih-bijih benih. Kaum Yahudi sebagaimana diketahui lebih kaya daripada bangsa Arab di mana Arab dengan sifat kekampungan dan kurang berfikir serta boros dengan uang memaksa mereka bergadai dengan kaum Yahudi yang kebanyakkannya gadaian itu dikenakan riba berlipat ganda. Warga Madinah juga mempunyai harta kekayaan berupa unta, lembu dan kambing di mana mereka gunakan unta untuk pengairan tanaman. Beberapa padang ragut kepunyaan mereka di mana dari situlah mereka mendapatkan kayu api disamping mengembala binatang ternakan.
Madinah menjadi penghasil tenunan dari kapas dan sutera, bantal sandar beraneka warna dan tabir-tabir yang berlukis. Selain itu banyak peniaga minyak wangi menjual atar dan kasturi serta anbar dan raksa. Cara-cara jual beli pada masa itu ada yang dilanjutkan oleh Islam dan ada yang dilarang seperti amalan menyorok barang, lelangan barangan di mana diberikan kepada mereka yang menawarkan harga paling tinggi, menyambut dan menemui penunggang-penunggang di luar Madinah, menjual susu yang masih berada dalam unta atau kambing, menjual dengan bayaran bertangguh, menjual dengan agak-agak sahaja dan lain-lain. Ada juga kaum Aus dan Khazraj yang berurusan dengan riba tetapi jarang berbanding kaum Yahudi. Warga Madinah juga membuat kerja menjahit, menyamak kulit, membina rumah, mengukir dan sebagainya yang terkenal di masa sebelum hijrah.
 Di copas dari :
“Wahai saudaraku! Jangan engkau dekati Muhammad itu. Dia orang gila. Dia pembohong. Dia tukang sihir. Jika engkau mendekatinya, engkau akan dipengaruhinya dan engkau akan menjadi seperti dia,” kata seorang pengemis buta Yahudi berulang-ulang kali di satu sudut pasar di Madinah pada setiap pagi sambil tangannya menadah meminta belas orang yang lalu-lalang.
Orang yang lalu-lalang di pasar itu ada yang menghulurkan sedekah kerana kasihan malah ada juga yang tidak mempedulikannya langsung.
Pada setiap pagi, kata-kata menghina Rasulullah SAW itu tidak lekang daripada mulutnya seolah-olah mengingatkan kepada orang ramai supaya jangan terpedaya dengan ajaran Rasulullah SAW. Seperti biasa juga, Rasulullah SAW ke pasar Madinah. Apabila baginda sampai, baginda terus mendapatkan pengemis buta Yahudi itu lalu menyuapkan makanan ke mulutnya dengan lembut dan bersopan tanpa berkata apa-apa.
Pengemis buta Yahudi yang tidak pernah bertanya siapakah yang menyuapkan itu begitu berselera sekali apabila ada orang yang baik hati memberi dan menyuapkan makanan ke mulutnya.
Perbuatan baginda itu dilakukannya setiap hari sehinggalah baginda wafat. Sejak kewafatan baginda, tidak ada sesiapa yang sudi menyuapkan makanan ke mulut pengemis itu setiap pagi.
Pada satu pagi, Saidina Abu Bakar ra pergi ke rumah anaknya, Siti Aisyah yang juga merupakan isteri Rasulullah SAW untuk bertanyakan sesuatu kepadanya.
“Wahai anakku Aisyah, apakah kebiasaan yang Muhammad lakukan yang aku tidak lakukan?”, tanya Saidina Abu Bakar ra sebaik duduk di dalam rumah Aisyah.
“Ayahandaku, boleh dikatakan apa sahaja yang Rasulullah lakukan, ayahanda telah lakukan kecuali satu,” beritahu Aisyah sambil melayan ayahandanya dengan hidangan yang tersedia.
“Apakah dia wahai anakku, Aisyah?”
“Setiap pagi Rasulullah akan membawa makanan untuk seorang pengemis buta Yahudi di satu sudut di pasar Madinah dan menyuapkan makanan ke mulutnya. Sejak pemergian Rasulullah, sudah tentu tidak ada sesiapa lagi yang menyuapkan makanan kepada pengemis itu,” beritahu Aisyah kepada ayahandanya seolah-olah kasihan dengan nasib pengemis itu.
“Kalau begitu, ayahanda akan lakukan seperti apa yang Muhammad lakukan setiap pagi. Kamu sediakanlah makanan yang selalu dibawa oleh Muhammad untuk pengemis itu,” beritahu Saidina Abu Bakar ra kepada anaknya.
Pada keesokan harinya, Saidina Abu BAkar ra membawakan makanan yang sama seperti apa yang Rasulullah SAW bawakan untuk pengemis itu sebelum ini. Setelah puas mencari, akhirnya beliau bertemu juga dengan pengemis buta itu. Saidina Abu Bakar ra segera menghampiri dan terus menyuapkan makanan ke mulut pengemis itu.
“Hei… Siapakah kamu? Berani kamu menyuapku?” Pengemis buta itu mengherdik Saidina Abu Bakar ra. Pengemis buta itu terasa lain benar perbuatan Saidina Abu Bakar ra itu seperti kebiasaan.
“Akulah orang yang selalu menyuapmu setiap pagi,” jawab Saidina Abu Bakar ra sambil memerhatikan wajah pengemis buta itu yang nampak marah.
“Bukan! Kamu bukan orang yang selalu menyuapku setiap pagi. Perbuatan orang itu terlalu lembut dan bersopan. Aku dapat merasakannya, dia terlebih dahulu akan menghaluskan makanan itu kemudian barulah menyuap ke mulutku. Tapi kali ini aku terasa sangat susah aku hendak menelannya,” balas pengemis buta itu lagi sambil menolak tangan Saidina Abu Bakar ra yang masih memegang makanan itu.
“Ya, aku mengaku. Aku bukan orang yang biasa menyuapmu setiap pagi. Aku adalah sahabatnya. Aku menggantikan tempatnya,” beritahu Saidina Abu Bakar ra sambil mengesat air matanya yang sedih.
“Tetapi ke manakah perginya orang itu dan siapakah dia?”, tanya pengemis buta itu.
“Dia ialah Muhammad Rasulullah. Dia telah kembali ke rahmatullah. Sebab itulah aku yang menggantikan tempatnya,” jelas Saidina Abu Bakar ra dengan harapan pengemis itu berpuas hati.
“Dia Muhammad Rasulullah?”, kata pengemis itu dengan suara yang terkedu.
“Mengapa kamu terkejut? Dia insan yang sangat mulia,” beritahu Saidina Abu Bakar ra. Tidak semena-mena pengemis itu menangis sepuas-puasnya. Setelah agak reda, barulah dia bersuara.
“Benarkah dia Muhammad Rasulullah?”, pengemis buta itu mengulangi pertanyaannya seolah-olah tidak percaya dengan berita yang baru didengarnya itu.
“Ya benar. Kamu tidak percaya?”
“Selama ini aku menghinanya, aku memfitnahnya tetapi dia sedikit pun tidak pernah memarahiku malah dia terus juga menyuap makanan ke mulutku dengan sopan dan lembut. Sekarang aku telah kehilangannya sebelum sempat memohon ampun kepadanya,” ujar pengemis itu sambil menangis teresak-esak.
“Dia memang insan yang sangat mulia. Kamu tidak akan berjumpa dengan manusia semulia itu selepas ini kerana dia telah pun meninggalkan kita,” beritahu Saidina Abu Bakar ra.
“Kalau begitu, aku mahu kamu menjadi saksi. Aku ingin mengucapkan kalimah syahadah dan aku memohon keampunan Allah,” ujar pengemis buta itu.
Selepas peristiwa itu, pengemis itu telah memeluk Islam di hadapan Saidina Abu Bakar ra. Keperibadian Rasulullah SAW telah memikat jiwa pengemis itu untuk mengakui ke-Esaan Allah..
 
DAFTAR ISI SIRAH NABAWIYAH ( Sejarah Hidup Rasulullah saw)

Read More »
09:44 | 0 komentar